Produk Olahan Selamatkan Petani di Musim Panen

Bangli (bisnisbali.com) –Keluhan klasik para petani lokal utamanya di saat musim panen tiba, seharusnya bisa segera dicarikan  alternatif oleh pemerintah.

Pembuatan aturan tanpa dibarengi dengan pengawasan pelaksanaannya tentu bisa dianggap mubazir dan kondisi petani tetap akan termarginalkan. Hampir tiap musim panen tiba petani yang seharusnya bisa menikmati keuntungan dari jerih payahnya selama mengolah lahan ternyata lebih sering mengalami kerugian dan arus gigit jari.

“Hampir tiap musim panen hal serupa selalu terjadi, mulai dari harga yang jatuh karena hasil yang berlimpah hingga harus digempur produk dari daerah lain yang ikut masuk ke pasar sehingga membuat hasil petani lokal makin terjepit. Kadang kita sampai menyerah karena kerugian yang dialami tidaklah sedikit. Namun berpikir lagi apa yang harus dilakukan dengan lahan dan perekonomian keuarga,” ungkap Kadek Sumarjaya, salah seorang petani tomat desa Bayung Kintamani.
Di tambahkannya, dulu sempat hasil panen petani, mulai dari bawang merah, tomat, lombok besar, kol, sawi hingga jeruk dibeli oleh salah satu bank yang berkantor di Denpasar, komoditi hasil panen saat itu dibeli dengan harga yang pantas hingga petani semangat dalam mengolah lahan mereka.

“Sekitar empat tahun lalu sempat ada pihak ketiga yang membeli dan langsung mengambil hasil panen kita dengan harga yang sesuai. Saat itu ada anggota dewan dari provinsi yang ikut menjadi orang tua asuh kami, tapi hanya berjalan beberapa kali masa panen, kita sendiri juga tidak tahu kenapa akhirnya pola seperti itu terputus, padahal kita sangat berharap ada kepedulian serupa pada kinerja kami,” ungkap Kadek lesu.
Sementara dinas pertanian setempat juga sudah melakukan berbagai upaya pembenahan melalui tenaga PPPK penyuluh pertanian, namun karena minimnya anggaran serta SDM yang ada membuat proses upaya meminimalisir kerugian di musim panen ini jadi kurang merata. Salah satu ASN PPPK Dinas Pertanian Kabupaten Bangli AA Dwi Permadi menuturkan berbagai upaya peningkatan pendapatan petani sudah dilakukannya namun diakui belum maksimal karena keterbatasan ruang gerak dan anggaran.

“Pembentukan kelompok-kelompok tani sangat penting untuk bisa meningkatkan produktivitas pertanian, melalui kelompok tani inilah semua bisa dilakukan dengan terpadu dan bersama sama. Selanjutnya menyiasat harga yang jatuh saat masa panen raya bisa dilakukan dengan menciptakan hasil olahan yang tepat guna. Misalnya saja untuk produk jeruk bisa dibuat hasil olahan lain seperti pembuatan minuman, mengolah menjadi dodol atau keripik serta produk lainnya yang memiliki umur produksi yang lebih lama dan harga yang lebih tinggi dibanding dengan harga jeruk segar. Hal serupa juga bisa dilakukan pada tomat. Sementara untuk bawang merah bisa diolah menjadi bawang goreng sehingga lebih tahan lama dan harga bisa diangkat,” ungkapnya.
Namun untuk mewujudkan hal ini tentu tidaklah mudah, minimnya pengetahuan para petani, keterbatasan alat serta biaya membuat beberapa program yang seharusnya mampu membantu petani secara keseluruhan tidak bisa dilakukan secara maksimal.

“Program semacam ini kita harapkan bisa menjadi solusi bagi petani kita dengan didukung penuh oleh pihak ketiga sebagai orang tua asuh atau melalui program social CSR yang biasanya dimiliki oleh perusahaan besar. Membangkitkan sector pertanian tidaklah cukup hanya dengan wacana serta pembuatan aturan namun lebih pada tindakan nyata dan bagaimana aturan tersebut bisa dijalankan dengan maksimal,” jelas Gung Permadi.
Hingga saat ini mengolah kembali hasil pertanian segar menjadi produk lain memang sudah dilakukan beberapa petani melalui kelompok tani yang ada. Hanya saja untuk petani lain terutama mereka yang tidak memiliki kelompok tani tentu akan sangat kesulitan dalam mewujudkan hal ini.

Bahkan beberapa olahan petani yang melakukan pola ini sudah dijual hingga keluar Bali bahkan luar negeri. Pemerataan di bidang pertanian ini hingga saat ini masih dirasa sangat sulit karena terbentur aturan serta minimnya bantuan.*ita