Penurunan Suku Bunga Acuan BI belum Ampuh Dongkrak Ekonomi

Denpasar (bisnisbali.com) – Kebijakan Bank Indonesia (BI) dengan menurunkan suku bunga acuan acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) menjadi 5,50 persen pada Agustus lalu, menurut Prof. IB Raka Suardana, belum bisa menjadi daya dorong untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada semester II 2019 ini. Bercermin dari itu, September ini kemungkinan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan.

“Hingga saat ini memang belum ada dampak yang signifikan, meski suku bunga acuan BI sudah berada di level 5,50 persen. Tampaknya, selain faktor di dalam negeri, ada sejumlah faktor lain dari luar negeri yang menyebabkan ekonomi RI belum banyak bergerak saat ini,” tutur pengamat ekonomi dari Undiknas University ini, di Denpasar, Minggu (15/9) kemarin.

Terangnya, faktor dari luar negeri atau eksternal tersebut di antaranya belum kondusifnya kondisi perekonomian di dunia hingga saat ini. Faktor yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah adanya peralihan investasi dampak perang dagang Amerika dan Tiongkok ini yang tidak masuk ke Indonesia, melainkan masuk berinvestasi ke Vietnam. Imbuhnya, faktor eksternal tersebut yang kemudian mengganggu iklim ekonomi Indonesia, sehingga menjadikan pertumbuhan ekonomi RI tersendat.

Bercermin dari itu pula, dia memprediksi, kemungkinan BI masih tetap akan mempertahankan suku bunga acuan pada September 2019 ini. Di sisi lain, jelas Raka, meski belum menjadi daya dorong, nantinya kebijakan penurunan suku bunga acuan ini oleh pemerintah melalui BI memang harus terus diupayakan untuk menggenjot pertumbuhan maupun geliat ekonomi. “Selain itu pemerintah dari sisi belanja negara juga harus dipercepat menjelang akhir tahun ini. Tujuannya, untuk mendorong ekonomi nasional,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan, Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Bali Bidang Finansial dan Moneter IB Kade Perdana. Kata dia, kebijakan penurunan suku bunga acuan BI belum signifikan jadi daya dorong bagi pertumbuhan ekonomi nasional saat ini. Sebab menurutnya, sektor perbankan nasional belum serta merta mengambil kebijakan searah dengan kebijakan BI tersebut.

”Belum banyaknya perbankan nasional yang menurunkan suku bunga, khususnya kredit membuat sejumlah pelaku usaha belum melihat kebijakan pemerintah tersebut sebagai daya tarik untuk berusaha saat ini,” kilahnya.

Salah satu contohnya, itu terlihat dari masih stagnannya sektor properti di tengah kebijakan penurunan suku bunga acuan oleh BI tersebut. Sektor tersebut sebelumnya sempat menjadi andalan utama kalangan lembaga keuangan sebagai perputaran uang. Selain itu, turunnya angka kungjungan wisatawan ke Bali tahun ini, turut juga memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang belum menggembirakan. *man