Kredit Bermasalah di BPR masih Tinggi

SELEKTIF - Direksi bersama komisaris BPR dituntut selektif menyalurkan kredit guna menekan angka NPL.

Denpasar (bisnisbali.com) – Pertumbuhan penyaluran kredit terutama bank perkreditan rakyat (BPR) di Bali per Juni 2019 relatif tinggi. Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan I OJK Regional 8 Bali dan Nusra, Armen, Selasa (10/9) mengatakan, BPR di Bali masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat yaitu menurunkan kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang masih tinggi.

Ia mengungkapkan, dari segi penyaluran kredit, BPR menampilkan

pertumbuhan yang menggembirakan. Total penyaluran kredit perbankan di Bali sebesar Rp89,56 triliun, di mana kredit BPR sebesar Rp10,92 triliun. Kredit BPR di Bali tumbuh 9,40 persen (yoy).

Ia menjelaskan, walaupun pertumbuhan penyaluran kredit terutama BPR di Bali per Juni 2019 relatif tinggi, persentase kredit yang bermasalah atau non performing loan juga turut tinggi. NPL BPR sebesar 8,70 persen lebih tinggi dibandingkan NPL BPR nasional yang sebesar 7,38 persen.

Pada Juni 2019, terdapat 112 BPR yang memiliki NPL lebih dari 5 persen. Memburuknya kualitas kredit BPR terutama disumbangkan sektor perdagangan besar dan eceran. “Di dalam sektor tersebut, salah satunya terdapat bisnis properti yang saat ini masih belum membaik kondisinya,” katanya.

Tingginya NPL BPR di Bali melampaui nilai NPL BPR secara nasional harus menjadi perhatian pengurus BPR di Bali.

Direksi dan komisaris beserta manajemen BPR berupaya menyelesaikan kredit bermasalah sebelumnya.

Armen menambahkan, kredit yang disalurkan BPR selanjutnya agar dapat lebih berkualitas. “Selain itu, penyaluran kredit utamanya ke sektor properti dilakukan dengan lebih selektif dan berhati-hati,” kata Armen. *kup