2019, Tabanan Kantongi 14 Koperasi Baru  

Tabanan (bisnisbali.com) – Di tengah kelesuan ekonomi dan kian ketatnya persaingan, ternyata tak menyurutkan pertumbuhan koperasi baru di Kabupaten Tabanan pada 2019 ini. Betapa tidak, tahun ini ada 14 koperasi baru yang tumbuh, sehingga total Kabupaten Tabanan mengantongi 580 koperasi saat ini.

Kabid Kelembagaan Dinas Koperasi dan UKM Tabanan, Ni Nyoman Yudiani, di Tabanan, Rabu (11/9) mengungkapkan, tahun ini selain melakukan rencana pembubaran terhadap koperasi yang tidak aktip atau sakit. Imbuhnya, tahun ini juga terjadi pertumbuhan koperasi baru, bahkan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“2019 hingga saat ini sudah ada 14 koperasi baru yang tumbuh, itu meningkatkan dari 2018 yang hanya mengantongi pertumbuhan koperasi baru mencapai 12,” tuturnya.
Jelas Yudiani, tahun ini koperasi yang tumbuh di Kabupaten Tabanan sebagian besar merupakan non koperasi simpan pinjam (KSP) atau koperasi yang bergerak di sektor riil. Yakni, mencapai 10 unit koperasi, sedangkan sisanya atau 4 unit lainnya merupakan koperasi yang bergerak dalam bidang KSP. Katanya, tahun ini juga ada satu koperasi pegawai negeri (KPN) yang malakukan perubahan anggaran dasar (PAD) dan baru tercatat tahun ini, namun koperasi ini tidak tergolong baru karena sudah memiliki badan hukum sejak lama.

“Artinya jumlah koperasi di Tabanan yang tumbuh saat ini adalah 14 koperasi dan kemungkinan masih akan bertambah hingga akhir tahun nanti, mengingat ada sejumlah koperasi yang masih dalam tahap proses mendapatkan badan hukum dari Kementrian Koperasi,” tuturnya.

Paparnya, dari bertumbuhnya jumlah koperasi baru di Kabupaten Tabanan, itu salah satu mencerminkan bahwa geliat perekonomian di daerah lumbung pangan ini tetap tumbuh hingga kini. Selain itu, ada kecenderungan bergesernya minat masyarakat yang sebelumnya ramai-ramai mendirikan koperasi unit usaha KSP, kini bergeser ke koperasi sektor riil.
Sebenarnya, di tengah kian ketatnya persaingan lembaga pembiayaan dan keuangan, keberadaan koperasi masih berpeluang bisa eksis. Sebab, eksistensi koperasi ini terletak di manajemen, khususnya dalam upaya menjaga fanatisme para anggota koperasi itu sendiri. Menurutnya, jika anggota merasa fanatik merasa ikut memiliki koperasi, bunga tinggipun yang dibandrol koperasi bersangkutan akan dipinjam oleh anggota. Sebab, dari rasa fanatisme tersebut, nantinya akan kembali dinikmati oleh anggota koperasi bersangkutan, salah satunya dalam bentuk SHU.

“Rasa fanatisme ini yang perlu ditanamkan di anggota koperasi. Selama ini, pendidikan ini yang belum banyak ditanamkan di koperasi kepada anggota secara reguler,” kilahnya.*man.