Putu Sudiadnyani Limbah Jadi Aksesori Mahal

KREATIVITAS dan inovasi seorang perajin maupun pebisnis harus terus diasah dengan menciptakan produk-produk terbaru. Inilah yang membuat Putu Sudiadnyani yang akrap disapa Mami Bara, selalu produktif mengeluarkan produk-produk terbaru di aksesori perak, tembaga maupun perhiasan emas.

Tidak heran pemilik Bara Silver ini baru saja mengeluarkan produk terbarunya. Tidak jauh dari kerajinan perak, kali ini Bara memiliki desain baru di luar ekspektasi sebuah aksesori. Ia membuat aksesori dari batok kelapa yang notabene limbah.

“Batok atau tempurung kelapa siapa yang tidak mengenalnya. Di sini jumlah sangat banyak dan umumnya menjadi sampah atau limbah,” kata perajin binaan KPw Bank Indonesia Bali tersebut.

Karena jumlahnya yang banyak tersebut, diakui Sudiadnyani, memunculkan ide kenapa tidak dimanfaatkan menjadi produk aksesori. Hasilnya limbah itu kemudian diukir dan dipadukan dengan tembaga atau perak. Dari hasil kreativitas akhirnya jadilah aksesori perhiasan berupa kalung, serutan kain, bros dari batok kelapa. Ia pun dengan bangga membawa aksesori terbarunya tersebut ke ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta.

“Dalam pameran produk-produk binaan Bank Indonesia tersebut, Presiden Joko Widodo malah memuji produk saya ini. Beliau berkata kok ada pemikiran bisa mengubah sampah menjadi aksesori bernilai mahal,” ujarnya sumringah.

Aksesori dari batok kelapa tersebut, ia bisa menjual dengan harga yang mahal hingga Rp1,5 juta. Bernilai jual tinggi karena proses pembuatannya memakan waktu 3 bulan untuk satu produk. Selain itu, kalung dari batok kelapa ini juga diukir layaknya produk seni sehingga terkandung nilai seni dari para perajinnya.

Proses pembuatannya, batok kelapa tersebut diukir terlebih dahulu oleh perajin, kemudian dikombinasikan dengan tembaga atau perak. Warna batok kelapa cokelat juga membawa seni tersendiri karena jika diukir akan muncul kesan etnik. Ditambah lagi dengan warna emas maupun perak, hasilnya bagus sekali.

Tidak heran belum sebulan meluncurkan produk ini, dikatakan respons dari masyarakat sangat luar biasa. Kendati demikian, ia tidak mau memproduksi dalam jumlah banyak walaupun memiliki jumlah perajin mencapai ratusan orang di seluruh Bali. Baginya produk seni yang dikerjakan dengan seni tidak harus menghasilkan jumlah langsung banyak. Walaupun sedikt namun produk tersebut ”bernyawa” (metaksu).

Secara keseluruhan pemasaran produk aksesorinya 99 persen menyasar pasar domestik, sehingga desainnya pun menyesuaikan dengan selera pasar domestik. Kebanyakan permintaan datang dari pemerintahan, bank-bank dan masyarakat umum.”Berharap memang bisa ekspor, tetapi saya lagi asyik banget bermain di domestik. Bermain kreativitas dan inovasi dengan hati serta jiwa, saya merasa puas. Jadi tidak melulu uang,” katanya. *dik