Lima Perusahaan Berizin Siap Tampung Arak Bali

Denpasar (bisnisbali.com) –Keinginan Gubernur Bali Wayan Koster untuk melegalkan arak Bali yang merupakan minuman produk masyarakat lokal, gayung bersambut dengan para pengusaha minuman yang siap menampung produksi arak para petani. Kepala Bidang Perindustrian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan  Provinsi Bali, I Gde Wayan Suamba, S.E. mengatakan, ada lima perusahaan minuman resmi yang akan menampung produk arak dari para petani.

“Ada 5 perusahaan yang sudah mempunyai izin usaha industri, yang mengambil bahan baku arak Bali itu dari petani-petani arak yang ada di Karangasem. Produksi arak petani ini nantinya dikumpulkan oleh koperasi-koperasi untuk kemudian menjualnya ke perusahaan ini,” tutur Suamba saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/9) kemarin.

Dengan demikian, para petani yang selama ini kesulitan dalam pemasaran dan dikejar-kejar petugas Tramtib, sudah bisa berproduksi dengan tenang dan tidak ketakutan lagi. “Produksi arak Bali yang selama ini termasuk negatif investasi, dengan diambil oleh 5 perusahaan yang sudah punya izin usaha industri sehingga menjadi legal. Ada 3 perusahaan di Karangasem yaitu UD Lestari, Niki Shake, Patra Jasa, yang di Buleleng dan Badung masing-masing ada 1,” ungkapnya.

Perusahaan tersebut akan mengambil arak Bali dari petani untuk diolah kembali sehingga menjadi minuman beralkohol yang sesuai dengan standar. Untuk mekanisme perdagangan arak Bali, dikatakan, tengah disusun rancangan peraturan gubernur tentang tata kelola arak Bali. “Nanti mulai dari petani sampai pemasarannya, standar dan hak kekayaan intelektual akan dibahas dalam ranpergub tersebut. Jadi tata kelola akan diatur dalam ranpergub tersebut,” tandasnya.

Terkait harga jual di tingkat petani, dikatakan, berdasarkan Pergub 99 tentang pemasaran produksi pertanian, perikanan dan industri lokal maka harga dipatok 20% di atas HPP. Hal ini tentunya akan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani pembuat arak Bali.

“Keinginan pemerintah adalah agar arak Bali dapat menjadi icon-nya Bali, karena banyak wisatawan yang datang ke Bali dan menanyakan tentang arak Bali. Kalau industri arak Bali sudah berkembang, ini bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas Bali bahkan bisa diekspor karena selama ini kita banyak mengimpor minuman dari luar. Kami harap ini bisa kalahkan sakhe Jepang dan jadi icon di daerah sendiri,” tukasnya.

Bila hal tersebut sudah berjalan, prospek dari arak Bali sangat luar biasa. Tidak hanya meningkatkan pendapatan petani tetapi juga pendapat daerah. *pur