Telur Numpuk, Harga Melorot hingga Level Rp 1.100 per Butir

MENUMPUK - Produksi telur ayam di tingkat peternak yang menumpuk, belum tersalurkan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Tabanan berharap keringanan dari biaya produksi. Kondisi itu menyusul terus melemahnya harga telur yang telah menyentuh level Rp 1.100 per butir. Ironisnya kondisi ini dibarengi dengan menumpuknya stok telur di tingkat peternak sekarang ini.

Salah seorang peternak ayam petelur, Darma Susila, di Desa Buruan Tabanan, Minggu (8/9) kemarin mengungkapkan, setelah sempat di tingkat peternak harga telur ayam ini bertengger di level Rp 1.200 per butir, kini perlahan melemah ke level Rp 1.100 per butir. Diakuinya, dengan kisaran harga tersebut kalangan peternak tidak bisa berkutik lagi. Di tengah kondisi produksi yang tidak bagus, harga Rp 1.100 per butir ini sama dengan hitung-hitungan break event poin (BEP).

“Penyebab turunnya harga ini indikasinya dipicu oleh kemampuan daya beli konsumen yang turun. Sementara untuk indikasi lain, salah satunya karena produksi yang meningkat, tampaknya tidak mungkin karena populasi ayam petelur untuk di Bali sudah jauh menurun dari sebelumnya,” tuturnya.

Jelas Darma, penurunan daya beli konsumen ini, diperkuat dengan mulai terjadi ketidaklancaran serapan pasar. Biasanya, produksi setiap hari selalu habis tersalurkan, namun kini mulai ada penumpukan dua hingga tiga hari. Ini memperparah kondisi peternak, karena rata-rata produksi telur ayam bisa mencapai 20 ribuan per hari, sehingga mengganggu perputaran modal usaha.

Bercermin dari kondisi tersebut, ia berharap agar ada solusi berupa keringanan atau penurunan di biaya produksi. Khususnya menyangkut harga pakan yang berada di kisaran Rp 6.000 per kg saat ini. Kata Darma, terkait hal itu, pemerintah agar bisa menurunkan biaya pakan dengan meningkatkan produksi bahan baku di dalam negeri. Dengan begitu, pasokan impor yang porsinya mencapai 80 persen saat ini bisa dikurangi.

“Produksi bahan baku pakan di dalam negeri harus ditingkatkan, terutama jagung dan kedelai. Bila itu bisa dilakukan, lumayan akan bisa menekan biaya produksi,” ujarnya.

Saat ini dengan harga yang merosot ini, peternak hanya bisa pasrah. Sebab, selama ini kemampuan sebagian besar peternak hanya bisa berproduksi, sedangkan untuk pemasaran bisa dibilang hanya sebagian kecil peternak yang memiliki kemampuan tersebut. Bercermin dari itu pula, peternak yang sudah mengetahui seluk beluk peternakan, mereka (peternak) bisanya berusaha akan mempertahankan populasi karena itu akan ada hubungannya kepada masalah kewajiban (pembayaran kredit) ke bank.

“Misal, peternak yang sudah memiliki populasi 20.000 ekor, mereka pasti akan mempertahankan jumlah populasi tersebut. Sebab, bila terjadi penurunan jumlah populasi, maka akan terjadi pula penurunan produksi sekaligus pendapatan. Akibatnya, itu akan berpengaruh pada kemampuan untuk pembayaran kredit kepada pihak bank,” kilahnya. *man