Pemkot Denpasar Gelar Piodalan Tumpek Krulut

Wakil Walikota Kota Denpasar IGN Jaya Negara saat bersembahyang bersama pada Piodalan Tumpek Krulut di Lapangan Puputan Badung Gusti Ngurah Made Agung Sabtu lalu. (wid)

Denpasar (bisnisbali.com) – Guna memaknai hari suci Tumpek Klurut, Pemerintah Kota Denpasar melalui Bagian Kesra Setda Kota Denpasar  menggelar Upacara Piodalan Tetangguran atau Tumpek Krulut di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung  Sabtu (7/9).

 Hadir dalam Piodalan ini Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara beserta istri yang juga Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede serta pimpinan OPD dan seniman Kota Denpasar.

Pada kesempatan ini Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara juga mempersembahkan pagelaran gambelan bersama beberapa sekeha yang ada di Kota Denpasar. Dalam bahasa Jawa kuno krulut berarti kelulut yang berarti kasih sayang dan cinta. Melalui perangkat gambelan yang memiliki suara indah  sehingga membuat orang terpesona mendengarnya sehingga tumbuh rasa cinta kasih.

Wakil Wali Kota Jaya Negara mengatakan,  perayaan upacara ini, masyarakat Hindu di Bali sejatinya memberikan persembahan kepada Dewa Iswara yang menurut kepercayaan mereka hadir dalam bentuk manifestasi gamelan. Oleh karena itu, Upacara Tumpek Krulut merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Bali untuk memuja Dewa Iswara tersebut. “Mereka memiliki keyakinan bahwa suara cantik yang muncul dari gamelan adalah representasi dari Dewa Iswara,” ujar Jaya Negara.

Forum TPLAH Kota Denpasar, Dewa Ketut Adi Putra mengatakan, dalam piodalan Tumpek Krulut dikemas dengan pagelaran  beragam kesenian yang menghasilkan suara baik vokal maupun instrumental.  “Dari perayaan Tumpek Krulut ini kita melaksanakan upacara kepada elemen yang menghasilkan suara. Sehingga dimaknai dengan penampilan beragam gambelan, tari, kidung, dan lain sebagainya yang telah memberikan suara indah sehingga menumbuhkan rasa cinta kasih kita semua,” ujar Dewa Ketut  Adi .

Lebih lanjut ia menjelaskan tujuan dilaksanakan piodalan Tumpek Krulut adalah agar perangkat gambelan  dalam melengkapi upacara tersebut memiliki suara yang indah dan metaksu. Sehingga dari alunan  nada dan irama itu akan dapat melahirkan gerak yang indah sebagai  unsur seni.  Mengingat bagi umat Hindu di Bali dalam melaksanakan ritual tidak pernah lepas dari penggunaan bunyi gambelan. Baik upacara yang sederhana alit, madya dan utama. “Jika upacara yang sederhana paling tidak memakai suara kaset dan apabila suara itu besar bisa menampilkan beberapa jenis gambelan dan disuarakan secara bergantian maupun secara bersama-sama,” terangnya.

Sementara Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, Raka Purwantara menjelaskan, sudah menjadi tradisi saat “Tumpek Krulut” umat Hindu di Pulau Dewata melakukan persembahan kepada  Sang Pencipta dengan manifestasinya sebagai taksu suara atau bunyi-bunyian yang berstana pada berbagai alat musik dan gambelan. Hal ini tidak terlepas dengan keadaan kehidupan dan tata krama dalam tatanan kehidupan masyarakat Bali yang mengutamakan kesejahteraan dan harmonisasi alam lingkungan, manusia dan Tuhan yang disebut tri hita karana. Sehingga dalam pelaksanaan tumpek krulut kali ini berbagai seni tari dan tabuh sakral ditampilkan. Upacara Tumpek Krulut dipuput oleh Ida Pedanda Isteri Rai  Pemedilan, Griya Pemedilan Pemecutan Denpasar. *wid