WIF 3 di Bali, Ketahanan Air dan Pangan Jadi Prioritas

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (dua dari kiri) ketika membuka World Irrigation Forum ke-3 dan Pertemuan Dewan Eksekutif Internasional ke-70 didampingi President International Commision on Irigation and Drainage (ICID) Felix B. Reiders, President World Water Council Loic Fauchon dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati di Bali Nusa Dua Convention Center.

Mangupura (Bisnis Bali) –  Tantangan dan peluang dalam bidang irigasi terus mengalami perubahan. Terlebih, ketahanan air dan pangan kini menjadi prioritas pemerintah, maka sangat diperlukan adanya sharing dengan negara lain guna mewujudkan tujuan tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono ketika membuka Forum Irigasi Dunia (World Irrigation Forum/WIF) ke-3 dan Pertemuan Dewan Eksekutif Internasional ke-70 bersama President International Commision on Irigation and Drainage (ICID) Felix B. Reiders, President World Water Council Loic Fauchon dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati bertempat di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), baru – baru ini.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang pernah menjabat Vice President ICID (2013-2016) mengatakan topik pembahasan di forum dunia ini disesuaikan perkembangan yang ada. Pada enam tahun lalu, fokus utama pertemuan WIF-1 di Turki adalah tentang ketahanan pangan. Tiga tahun berikutnya, WIF-2 di Thailand mengangkat topik tentang manajemen sumber daya air dan merumuskan peran irigasi mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan.

“Tahun ini dalam WIF-3 fokus baru kita adalah pengembangan sumber daya air, ketahanan pangan dan nutrisi dengan kondisi lingkungan yang kompetitif. Produksi pangan diperlukan dua kali lipat pada tahun 2050 untuk memenuhi permintaan populasi dunia yang terus bertambah, sementara ketersediaan daratan dan air terbatas. Kita membutuhkan strategi yang kuat dan inovatif untuk memerangi kelaparan dan mengakhiri kemiskinan di pedesaan,” jelas Menteri Basuki.

Dikatakannya, Kementerian PUPR pada periode 2015-2019 menargetkan pembangunan satu juta hektar jaringan irigasi baru dan rehabilitasi tiga juta hektar jaringan irigasi.

Capaian dalam empat tahun (2015 – 2018), pemerintah telah membangun 860.015 hektar jaringan irigasi baru, yakni tahun 2015 seluas 273.532 hektar, 2016 seluas 138.661 hektar, tahun 2017 seluas 227.743 hektar dan tahun 2018 seluas 220.079 hektar. “Pada tahun 2019 ini kami targetkan tambahan jaringan irigasi seluas 139.410 hektar,” imbuhnya.

Pertemuan yang berlangsung pada 1 – 7 September 2019 ini dihadiri sekitar 1.400 partisipan dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang, seperti para menteri, pengambil keputusan/pemerintah, ahli bidang irigasi, kontraktor, konsultan, komunitas/LSM dan organisasi nirlaba. Forum ini menjadi ajang untuk berbagi pengalaman, teknologi dan ide-ide pengelolaan irigasi dari berbagai negara.

Turut hadir di antaranya Menteri Pekerjaan Umum (2004-2014) Djoko Kirmanto, Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis, Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia Dato’ Salahudin Ayub, Menteri Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir Mohammed Abdelaty Sayed Khalil, Menteri Energi Sumber Daya Air dan Irigasi Nepal Barshaman Pun.* dar