Ini yang membuat Tanaman Kakao di Tabanan Mendesak harus Diremajakan

Tabanan (Bisnis Bali) –
Sebagian besar atau 80 persen tanaman kakao di Kabupaten Tabanan sudah berumur 20-30 tahun. Kondisi tersebut sudah sangat tua, sehingga mendesak untuk diremajakan guna mengerek jumlah produksi kakao seiring dengan tren lonjakan harga salah satu komoditi perkebunan yang miliki orientasi pasar ekspor ini.
Ketua masyarakat pecinta kakao (Masako) Kabupaten Tabanan, Nyoman Suparman, di Tabanan, Selasa (20/8) mengungkapkan, usia yang tua pada tanaman kakao ini membuat produksi sudah tidak sebanyak seperti sebelumnya. Paparnya, jika saat usia muda tanaman kakao ini mampu berproduksi hingga 2 kg per pohon, namun kini rata-rata produksi kakao ini hanya maksimal mencapai 0,50 kg per pohon.
“Saat ini usia tanaman kakao yang tua ini di Kabupaten Tabanan hampir mencapai 80 persen, sedangkan 20 persen sisanya merupakan tanaman kakao muda dikembangkan oleh petani yang masih antusias mengembangkan tanaman tersebut,” tuturnya.
Jelas Suparman, bercermin dari itu sangat berharap kepada pemerintah untuk bisa memberi bantuan berupa bibit untuk peremajaan tanaman kakao yang sudah berumur tua ini. Itu kaitannya dalam rangka untuk kembali meningkatkan produksi kakao di Kabupaten Tabanan yang pernah  menjadi sentra produksi terbesar di Bali sebelumnya. Selain itu, katanya bantuan bibit ini juga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan petani yang cenderung kembali meilirik budi daya kakao setelah sebelumnya sempat beralih pada budi daya tanaman kayu karena tergiur oleh harga jual tinggi.
“Sekitar 2017-2018 lalu sempat booming budi daya kayu (jati mas, albesia) sehingga sejumlah petani banyak  beralih menanam pohon kayu dan menebas tanaman kakao. Sayangnya, ketika panen harga kayu tersebut malah murah atau tidak sesuai harapan sebelumnya. Bercermin dari itu, kini banyak petani kembali beralih ke kakao,” ujarnya.
Sambungnya, animo tersebut juga seiring dengan harga kakao di tingkat petani yang mencapai Rp 40 ribu per kg, harga tersebut cukup baik dan merangsang petani mengembangkan kakao. Sebab akuinya, pada 2017-2018 lalu harga kakao sempat turun ke harga hingga di bawah Rp 28 ribu per kg.
“Terkait pengembangan kakao, kami selaku pengurus Masako juga berencanan akan melakukan sosialisasi ke petani agar kembali megembangkan kakao. Sebab, tanaman kakao ini merupakan tanaman industri yang menjanjikan bagi kehidupan keluarga,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tabanan, Dewa Budidana Susila. Kata dia, saat ini tanaman kakao di Tabanan rata-rata berumur tua dan memang harus diremajakan atau direhabilitasi. Sebaran setra produksi kakao di Kabupaten Tabanan terdapat di Selemadeg Raya, Penebel, dan Marga.
“Usia tanaman di setra produksi tersebut, sebagian besar memang sudah harus direhabiitasi. Rehabilitasi ini salah satunya bisa melalui cara sambung pucuk dengan memanfaatkan klon unggul yang ada di tingkat lokal,” kilahya.*man