Kemajuan Fintech, Kompetitor BPR makin Berkembang

  1. Gianyar (Bisnis Bali)-
    Perkembangan industri financial technology (Fintech) mendorong kompetitor bank perkreditan rakyat (BPR) semakin berkembang. Direktur Utama BPR Kanti I Made Arya Amitaba Kamis (1/8) mengatakan BPR harus menyikapi perkembangan teknologi informasi dengan mewaspadai invisible kompetitor.

    Diungkapkannya, kehadiran industri fintech memang akan  memberikan kemudahan layanan keuangan kepada masyarakat dan sektor UMKM.Sama dengan BPR, Industri Fintech bisa memberikan layanan intermediasi kepada para  nasabah.
    Ditengah menjamurnya industri fintech bukan menjadi hambatan bagi BPR untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya BPR mesti tertantang untuk mengembangkan layanan berbasis TI.
    Dipaparkannya, BPR juga berpeluang bekerjasama dengan industri fintech dalam menggarap pasar. Kerjasama ini tentu didasarkan ketentuan POJK.
    Seiring pertumbuhan industri fintech, BPR harus mewaspadai Invisble Kompetitor dikarena mereka pada awalnya tidak terlihat, namun berpotensi mengambil market BPR kemudian besar dengan cepat.
    Amitaba melihat kemunculan fintech memunculkan penetrasi yang luar biasa. ” Untuk tetap bisa eksis ke depan, BPR harus aware dan komitmen dalam peningkatan teknologi ,” tegasnya.
    Ketua Umum Ikatan Profesional Bankir Bank Perkreditan Rakyat (i-pro BPR) meyakinkan dalam persaingan ke depan, BPR harus mewaspadai invisible kompetitor. Karena selama ini, BPR menganggap pesaingnya hanya BPR atau perbankan lain.
    Padahal adanya traveloka yang memiliki system pembayaran paylater, Gojek yang memiliki system pembayaran Gopay dan paylater juga menjadi pesaing BPR yang tidak terlihat. Itu persaingan yang tidak kentara.
    Ia menilai traveloka dengan  produknya paylater, ketika orang bepergian, tidak perlu pinjam kredit di bank. Mereka cukup dengan paylater.
    Masyarakat juga lebih cenderung menyimpan dananya di Gopay, OVO, dan lainnya untuk kemudahan fasilitas. Selain Traveloka dan Gojek, invisible kompetitor yang perlu diwaspadai menurutnya adalah start up – start up fintech.
    Untuk menjawab tantangan invisible kompetitor ini menurutnya BPR jangan cepat berpuas diri dan jangan selalu merasa berada dalam comfort zone. BPR harus terus meningkatkan diri. “Selain meningkatkan teknologi informasi (TI), BPR juga harus meningkatkan SDM dan permodalan,” kata Amitaba.
    Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra, Elyanus Pongsoda menyatakan dalam rangka upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi serta pencegahan dan penanganan krisis keuangan di Provinsi Bali. OJK telah membangun mekanisme kerja, antara lain melalui Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan (FKLJK) Provinsi Bali, Tim Kerja Satuan Tugas Waspada Investasi, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), dan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kredit Usaha Rakyat (KUR).
    Tim waspada investasi ini untuk menertibkan fintech yang menawarkan investasi secara ilegal. “Selama tahun 2018, Satgas Waspada Investasi telah menghentikan kegiatan dari 543 Fintech peer to peer lending ilegal dan 120 entitas investasi ilegal,” ucap Elyanus Pongsoda. *kup