Penguatan Rupiah jadi Angin Segar bagi Pelaku Usaha

Denpasar (Bisnis Bali) –
Sejumlah pelaku usaha menyambut optimis tren penguatan rupiah yang diprediksi akan terus berlanjut terhadap dolar AS. Di sisi lain awal minggu ini pergerakan rupiah telah menguat 0,63 persen ke Rp 13.920 per dolar AS dibandingkan dengan posisi akhir pekan lalu pada Rp 14.008 per dolar AS.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Bali Made Ariandi, Selasa (16/7) mengungkapkan, penguatan rupiah tentu menjadi angin segar bagi pelaku usaha sekaligus dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan III ini. Bercermin dari itu pula, imbuhnya para pelaku usaha menyikapi penguatan rupiah ini tentu akan melakukan sejumlah strategi bisnis dalam upaya pencapaian target yang telah dirancang sebelumnya.
“Terlebih lagi dalam waktu dekat tidak ada perhelatan politik yang memicu dampak pada ekonomi nasional, sehingga sudah saatnya pelaku usaha ini mengambil strategi bisnis dari momen penguatan rupiah sekarang ini,” tuturnya.
Jelas Ariandi, khusus di Bali yang sebagai tujuan wisata dunia, tentunya momen penguatan rupiah ini salah satunya bisa dimanfaatkan untuk menggenjot promosi wisata hingga penberdayaan UMKM agar bisa bergerak maju. Harapannya, penguatan rupiah ini juga dibarengi dengan ke stabilan rupiah dalam jangka waktu lama. Sebab itu akan menjadi acuan bagi pelaku usaha untuk menentukan nilai jual nantinya.
Hal senada juga diungkapkan, Wakil Ketua Umum (WKU) Kadin Bali Bidang Financial dan Moneter, IB Kade Perdana, penguatan rupiah tentu akan memberikan sinyal yang positip terhadap kebijakan makro Bank Indonesia (BI). Khususnya, terkait dengan kebijakan moneter salah satunya menyangkut peluang untuk lebih mendorong pelonggaran politik uang ketat berupa menurunkan suku bunga acuan BI7DRR dikisaran 0,25 sampai dengan 0,50 bps dari posisi 6 persen, terlebih lagi adanya sinyal langkah “Dovish” dari pejabat The Fed yang cenderung akan menurunkan atau tidak akan mengutak atik suku bunga acuan.
“Itu semua merupakan momentum yang kondusif pada rapat Dewan Gubernur pada Kamis mendatang untuk mengambil kebijakan penurunan bunga acuan,” ujarnya.
Jelas Kade Perdana, itu semua tentu merupakan angin segar bagi dunia usaha maupun pihak perbankan untuk menurunkan suku bunga pinjaman. Katanya, itu bisa merupakan insentip bagi perbankan dalam upaya mendorong peningkatan penyaluran kredit dan memperbaiki kinerja yang cenderung masih minim dalam memberikan kontribusi untuk pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sebagaimana yang dikehendaki pemerintah.
Sambungnya, secara makro ekonomi dari sudut kebijakan fiskal akan bisa memberikan arah perbaikan peluang penurunan biaya impor, utamanya untuk minyak bumi maupun barang impor dibutuhkan untuk keperluan pembangunan yang belum bisa dipenuhi dari industri dalam negeri. Itu sekaligus akan bisa mengurangi defisit neraca perdagangan kedepan, dimana periode Januari – Juni 2019 telah mengalami defisit mencapai 1,93 miliar dolar AS.
“Penguatan rupiah akan berdampak kondusif terhadap hutang RI menjadi makin berkurang jumlahnya dalam hitungan rupiah. Itu sekaligus memberikan prospek makin menguatnya cadangan devisa, daya beli masyarakat, neraca perdagangan yang dapat mendorong semakin membaiknya neraca pembayaran Indonesia kedepannya,” kilahnya.
Seiring dengan itu semua, maka fundamental perekonomian nasional akan menguat dan bisa bertumbuh lebih baik. Begitu pula kemungkinan yang akan bisa terjadi kedepan.*man