Realisasi AUTP di Tabanan baru Tercapai 10 persen dari Target

Tabanan (Bisnis Bali) –
Hingga Juli 2019 realisasi program asuransi usaha tani padi (AUTP) dari pemerintah pusat di Kabupaten Tabanan baru tercapai 10 persen dari target 10 ribu hektar pada tahun ini. Meski capaiannya masih kecil, pada akhir tahun nanti diprediksi realisasi AUTP akan tercapai seiring dengan tingginya luas tanam pada Oktober-Desember nanti.

Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pertanian Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana, di Tabanan, Senin (15/7) mengungkapkan, Juli 2019 realisasi program AUTP di Tabanan baru mencapai luasan 1.109,68 hektar. Kondisi tersebut terbagi atas 400 hektar untuk realisasi periode Januari-April 2019 dan April – Juli tahun yang sama capaiannya adalah 700 hektar luasan sawah. Imbuhnya, dari realisasi tersebut untuk periode Januari-April pembayarannya masih dilakukan secara swadaya. Artinya, 80 persen biaya AUTP di dibayarkan oleh pemerintah pusat dan sisaanya atau 20 persen di bayar petani.
“Pada April-Juli pola pembayaran AUTP berubah dengan 80 persen dibayarkan oleh pemerintah pusat, sedangkan 20 persen sisanya dibayarkan oleh APBD tingkat II. Artinya, petani pada periode April-Juli tidak dikenakan biaya lagi atau gratis,” tuturnya.
Jelas Wiadnyana, jika dilihat dari capaian realisasi AUTP hingga Juli ini memang masih kecil dari target. Sebab, Januari-Juli bukan merupakan bulan tanam untuk padi. Katanya, bulan tanam untuk padi ini baru akan terjadi pada Oktober-Desember nanti, sekaligus diharapkan akan menjadi pencapaian target dari program AUTP pada tahun ini.
“Namun tidak menutup kemungkinan bagi petani yang masih bisa melakukan tanam padi pada bulan ini, itu akan menambah lagi capaian realisasi AUTP nantinya,” ujarnya.
Di sisi lain, akuinya hingga Juli ini terkait AUTP sudah ada pengajuan klaim untuk luasan 14,77 hektar, sedangkan klaim yang sedang di proses mencapai 7,35 hektar, klaim yang sudah dibayarkan mencapai 26,25 hektar. Artinya, sudah ada laporan klaim untuk program AUTP ini total 48,37 hektar dengan nilai mencapai mencapai Rp 209 juta lebih hingga saat ini.
“Klaim terbesar terjadi di daerah Penebel dan Baturiti disebabkan serangan hama Tungro dan hama tikus yang terjadi pada tanaman padi,” tandasnya.
Sementara itu tambah Wiadnyana, untuk pencapaian target AUTP, pihaknya gencar melakukan sosialisasi ke tingkat kecamatan dengan menggandeng pekaseh, dan perbekel. Harapannya, keterlibatan pekaseh dan perbekel ini kemudian akan lanjut meneruskan informasi yang didapat terkait AUTP ini ke tingkat Kepala Dusun, dan berlanjut meneruskan informasi ke masyarakatnya masing-masing.
“Dengan begitu ada lebih banyak orang lagi yang mensosialisasikan program AUTP ini nanti, sehingga target 10 ribu hektar pada tahun ini bisa tercapai, terlebih lagi dengan petani yang tidak perlu lagi membayar premi untuk program tersebut karena sudah dibiayai dari APBD tingkat II sekarang ini,” kilahnya.*man