Laku Mahal, Petani Cabai di Tabanan Mengeluh

Tabanan (Bisnis Bali) –
Di tengah harga jual cabai dipasaran yang makin mahal dengan menyentuh Rp 85 ribu per kg untuk cabai kecil produksi lokal, ternyata tak membuat sejumlah petani cabai di Kabupaten Tabanan menyambut suka cita hal tersebut. Sebaliknya, sejumlah petani cabai ini justru mengeluh karena tak menikmati untung dari lonjakan tersebut.
Salah satu petani cabai di Baturiti, Ketut Karta, Jumat (12/7) mengungkapkan, harga jual cabai yang mahal tidak sertamerta disambut gembira oleh petani sekarang ini. Betapa tidak, di tengah kondisi harga jual yang mahal, justru jumlah produksi di petani turun tajam dari biasanya, bahkan beberapa petani ada yang malah tidak bisa berproduksi karena gagal panen sekarang ini.
“Penurunan jumlah produksi di petani ini yang kemudian menjadi pendongkrak mahalnya harga cabai di pasaran sekarang ini,” tuturnya.
Jelas Karta, saat ini harga cabai kecil ditingkat petani berada dikisaran Rp 65 ribu per kg, naik dari harga sebelumnya yang berada dikisaran Rp 25 ribu per kg. Begitu pula harga cabai besar ditingkat petani juga mengalami lonjakan dengan menyentuh Rp 60 ribu per kg, naik dari harga kisaran di bawah Rp 30 ribu sebelumnya. Katanya, kondisi lonjakan harga tersebut terjadi karena tanaman cabai di tingkat petani banyak mengalami penurunan produksi dan gagal panen seiring dengan kondisi kelembaban tinggi yang terjadi sekarang ini.
“Kondisi kelembaban tersebut membuat tingkat serangan hama, khususnya  hama antrax menjadi meningkat yang kemudian merusak, bahkan mematikan tanaman cabai,” ujarnya.
Akuinya, serangan hama antrax ini yang juga membuat 35 are dan 10 are luasan produksi tanaman cabai miliknya mengalami gagal panen. Sambungnya, padahal hari raya Galungan dan Kuningan yang jatuh pada bulan ini sudah ditargetkan menjadi momen untuk mencari untung lebih dari meningkatnya permintaan pasar dan harga jual yang meningkat. Selain itu, guna menjaga produksi dari serangan hama antrax juga sudah diupayakan dengan perlakuan penyemprotan pestisida, namun tetap saja upaya tersebut tidak berhasil.
“Dari luasan tanam cabai 10 are, saya mengalami kerugian mencapai Rp 20 jutaan. Kerugian tersebut untuk biaya olah tanah, pembelian bibit, hingga pembelian obat (pestisida),” tandasnya.
Sementara itu, Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Gst Ngurah Ketut Wicahyadi mengungkapkan, Kabupaten Tabanan menjadi sentra produksi cabai selama ini. Dari data Juni 2019 untuk produksi cabai rawit (cabai kecil) di Kabupaten Tabanan total mencapai 269 kwintal, sedangkan periode yang sama untuk produksi cabai besar mencapai 11 kwintal.
Sambungnya, tahun ini guna untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani, sekaligus juga upaya menstabilkan harga cabai di pasaran, Kabupaten Tabanan mendapatkan bantuan program pengembangan hortikultura dari pemerintah pusat. Salah satunya dalam bentuk pengembangan untuk tanaman cabai.
Paparnya, alokasi yang diberikan dari program teresebut mencapai 45 hektar yang nantinya akan disebar ke kelompok tani. Yakni, di Kecamatan Baturiti, Kecamatan Penebel, Kecamatan Tabanan dan Kecamatan Kerambitan yang merupakan sentra produksi cabai di Tabanan selama ini.
“Rata-rata bantuan pengembangan tanaman cabai tersebut per kelompok akan mendapat 3-5 hektar dan proses penanamannya akan dilakukan pada Juli akhir nanti,” tegasnya.*man