Lomba “Nyastra Bali”, Upaya Tingkatkan Penggunaan Bahasa Bali

Singaraja (Bisnis Bali) – Penggunaan bahasa Bali dan penulisan dengan aksara Bali di kalangan masyarakat Bali khususnya di Kabupaten Buleleng makin berkurang. Hal ini disebabkan, anak-anak cenderung diperkenalkan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Bahkan anak-anak sejak dini sudah diajarkan berbahasa asing, sehingga menyebabkan anak-anak kurang menggunakan bahasa Bali.

Menanggapi fenomena tersebut, Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menyelenggarakan lomba “Nyastra Bali” sebagai upaya untuk membangkitkan kecintaan anak-anak terhadap Bahasa Bali yang merupakan Bahasa Ibu.

Sebanyak 150 siswa SD, SMP, dan SMA/SMK di Kabupaten Buleleng, mengikuti lomba “Nyastra Bali” yang di selenggarakan di Gedung Sasana Budaya, Jumat lalu. Lomba ini dibuka Kepala Dinas Kebudayaan Drs. Gede Komang, M.Si, ditandai dengan pemukulan gong.

Lomba “Nyastra Bali” ini baru pertama kali diadakan di Kabupaten Buleleng. Ada 7 kategori yang dilombakan yaitu, Lomba Pidarta Bahasa Bali, Nyatua Bahasa Bali, Nyurat Aksara Bali di rontal, Macecimpedan, Mengarang Cerpen Bahasa Bali, Puisi Bahasa Bali, dan Membaca Berita Bahasa Bali.

Ditemui usai membuka lomba, drs. Gede Komang,M.Si mengatakan, lomba ini merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur Bali tentang penggunaan Bahasa Bali dan Aksara Bali. Ini bertujuan untuk memasyarakatkan kembali Bahasa Bali dan Aksara Bali di kalangan masyarakat.

“Inilah salah satu tolak ukur yang kami lakukan dengan mengadakan lomba Nyastra Bali, sebagai implementasi dari Pergub nomor 80 tahun 2018,” jelasnya.

Gede Komang menambahkan, lomba ini juga sebagai upaya untuk mendorong dan memotivasi para generasi muda untuk mencintai Bahasa Bali dan Aksara Bali. Selain itu, Gede Komang menegaskan, lomba ini akan di adakan secara rutin setiap tahunnya. Ia juga mengatakan, kedepannya lomba ini akan dikembangkan lebih baik lagi.

“Lomba ini akan kami adakan setiap tahun. Mungkin kedepannya sasaran lombanya akan lebih luas. Kami akan mencoba menyasar masyarakat umum, sehingga Bahasa Bali bisa ajeg di lingkungan orang-orang Bali,” harapnya. *ira/editor rahadi