Bali terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura, bahkan Bali juga terkenal dengan adat-istiadat serta budayanya yang adi luhung. Tidak terkecuali juga kegiatan upacara-upacara keagamaan dan tradisi yang tetap dilestarikan oleh masyarakat Bali. Semua itu saling berkaitan dan saling mendukung untuk menuju Bali yang ajeg. Apa yang harus dilakukan?


KALI ini berbicara mengenai upacara keagamaan tentu erat kaitannya dengan sarana dan prasarana (sarpras)-nya seperti beberapa hasil bumi baik kelapa, janur, buah-buahan dan masih banyak lagi lainnya. Namun pada kenyataannya pemenuhan aneka macam keperluan atau sarana upakara cenderung masih ada yang didatangkan dari luar Bali. Bali yang masyarakatnya dominan petani, seharusnya mampu memenuhi semua kebutuhan upakara agama Hindu. Bagaimana bisa demikian?

Masih belum maksimalnya pemenuhuhan kebutuhan sarana upakara di Bali seperti kelapa daksina, pisang, janur dan beberapa buah-buahan memang tidak dapat dipungkiri masih diramaikan oleh produk dari luar Bali. Namun hal tersebut kini perlahan sudah menemui titik terang, tingkat kesadaran masyarakat terhadap penggunaan buah lokal hingga pemberdayaan petani untuk menanam beberapa tanaman kebutuhan yandya mulai digencarkan pemerintah di masing-masing daerah.

Seperti halnya di Kabupaten Buleleng, beberapa upaya mewujudkan pemenuhan kebutuhan sarana upakara pun mulai digarap. Setelah menanam kelapa daksina, saat ini sesuai dengan visi misi Gubernur Bali, Wayan Koster, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Buleleng bersama stakeholder terkait dan desa, untuk kawasan hutan yang telah diberikan kepada desa dengan luasan yang bervariasi akan dibuatkan apa yang disebut dengan bumi banten.

Masing-masing kawasan dengan luas 20 hektar akan dirancang bumi banten untuk memenuhi kebutuhan yadnya orang Bali di desa itu. Hal itu diungkapkan Kadis PMD Buleleng I Made Subur, S.H. belum lama ini. “Selama ini luasan lahan belum cukup untuk membuat bumi banten ini. Dengan diberikannya pengelolaan hutan desa selama 35 tahun, kita bisa membuat bumi banten ini untuk pemenuhan kebutuhan sarana upakara,” jelasnya.

Hal serupa juga dilakukan di desa Baliaga  yang ada di Buleleng yakni Desa Pedawa Kecamatan Banjar. Dengan membangkitkan salah satu tradisi yang sempat punah yakni ‘menanam padi gogo’ atau “ngaga” di atas lahan kurang lebih 8 are secara tidak langsung sebagai masyarakat Hindu Bali sudah mendukung pemenuhan kebutuhan sarana upakara di Bali khususnya di Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.

Padi gogo ini memiliki peranan penting dalam upacara pujawali di Puncak Sari di Desa Pedawa Buleleng. Ketika tradisi ini vakum selama  kurang lebih 48 tahun masyarakat di Desa Pedawa cenderung kesulitan untuk memperoleh padi gogo ini, sampai akhirnya terpaksa harus didatangkan dari luar Pedawa dengan cara membeli. Meskipun membeli, untuk mendapatkan padi gaga bukanlah perkara mudah. Sebab padi gaga memang jarang dibudiayakan petani di Bali.

Belum lama ini masyarakat juga sudah memanen padi gogo yang ditanam pertengahan Desember 2018 lalu. Panen padi gogo ini juga ada ritualnya yang dinamakan ngetus. Diketahui padi gogo merupakan varietas padi tadah hujan yang tergolong langka. Kian jarang dibudidayakan mengingat harus perlu waktu enam bulan untuk dipanen.

Selain jenis padi gogo, di lahan tegalan itu warga juga menanam varietas lain yang disebut bija ratus. Bija ratus ini terdiri atas biji godem, jagung kedu dan jali. Tanaman biji-bijian ini merupakan bagian penting bagi masyarakat Pedawa untuk melengkapi sarana upakara keagamaan di desa Baliaga tersebut.

Dikatakan Made Genong, tokoh masyarakat Desa Pedawa gabah padi gogo akan dimasukkan ke dalam lumbung. Padi gogo ini akan digunakan saat pujawali di Pura Puncak Sari tiba karena wajib menggunakan sarana bija ratus. Genong pun tak menampik, ke depan pengembangan padi gogo akan dilakukan di lahan yang lebih luas. Tujuannya hanya satu, yakni menyiapkan stok yang cukup untuk digunakan sebagai sarana upakara sehingga tidak lagi membeli di luar Desa Pedawa. “Sekarang lahannya kami baru sediakan 8 are. Nanti pasti akan ditambah di lahan yang lebih luas lagi,” imbuhnya.

Rencananya, padi gogo akan ditanam kembali pada November mendatang. “Nanti pengolahan lahannya bisa mulai dilakukan Juli mendatang. Setelah siap, baru ditanam lagi,” tutupnya. *ira/editor rahadi

NGETUS – Tradisi ngetus padi gogo di Desa Pedawa Buleleng menjadi salah satu contoh upaya pemenuhan kebutuhan upakara di Bali.