Gianyar (Bisnis Bali) – Persaingan bank perkreditan rakyat (BPR) dengan lembaga jasa keuangan (LJK) lainnya seperti LPD dan koperasi kini makin ketat. Oleh karena itu, BPR harus memperkuat permodalan agar bisa bersaing dengan LJK lainnya.

Ketua DPK Perbarindo Kabupaten Gianyar, Made Sarwa, Kamis (9/5) mengatakan, selain LJK bank umum juga telah meluncurkan kredit usaha rakyat (KUR), termasuk lembaga lain seperti fintech memberikan  kemudahan kepada masyarakat selaku nasabah.

Ia menjelaskan, persaingan di sektor perbankan ini merupakan hal yang biasa. Usaha apapun itu pasti akan menghadapi persaingan. Justru dengan persaingan akan menantang BPR untuk menjadi lebih baik dibandingkan LJK lainnya.

Direktur Gianyar Partha Sedana ini memaparkan, dengan semangat kuat harapan BPR dalam memenangkan persaingan bisa lebih mudah terwujud. BPR harus mempersiapkan modal yang kuat. “Bukan hanya modal disetor atau modal inti yang dalam bentuk aset saja tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah modal SDM, teknologi dan keterampilan pengelolaan,” katanya.

Ia mengatakan, peraturan OJK tentang  penguatan modal inti yang terbagi beberapa klasifikasi wilayah adalah bertujuan untuk memperkuat dan memperluas ruang gerak usaha BPR itu sendiri, khususnya dalam penyaluran kredit yang tidak melanggar batas maksimum penyaluran kredit (BMPK).

Sarwa menilai, dalam menghadapi kondisi perekonomian seperti sekarang ini perlu juga diberikan kelonggaran pada BPR. Hal ini guna menyelesaikan permasalahan kredit yang masuk agunan yang diambil alih (AYDA). Semula penanganan AYDA  diberikan hanya satu tahun.

Sarwa menambahkan, kalau memungkinkan penanganan AYDA diberikan lebih dari satu tahun seperti  2 atau 3 tahun sehingga bank tidak tergesa-gesa menjual AYDA-nya. Kondisi ini memungkinkan  menimbulkan kerugian  bagi BPR  yang akan mempengaruhi modal. *kup/editor rahadi