BULAN Mei identik dengan dimulainya musim layangan, karena angin pada bulan ini mulai berhembus kencang. Bali tidak hanya terkenal karena pariwisata budayanya, namun juga terkenal memiliki beragam jenis layangan yang sangat unik dan cantik. Salah satunya layangan Janggan, yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dari jenis layangan lainnya.

Layangan Janggan merupakan salah satu layangan legendaris. Dari segi pembuatan layangan yang satu ini menurut Putu Agus Iwan Gunawan, pembuat layangan di Desa Tumbak Bayuh, Mengwi, Kabupaten Badung, lebih rumit dan tingkat kesulitannya tinggi. Semakin kecil ukuran layangan Janggan, tingkat kesulitan semakin tinggi dan semakin sulit untuk bisa terbang.

“Layangan Janggan, kalau tidak profesional yang buat pasti tidak mau naik. Makanya setiap saya membuat pasti saya coba dulu, kalau sudah pasti bisa terbang baru saya jual supaya konsumen tidak kecewa,” terangnya Jumat (10/5) di Badung.

Dikatakan, karena tingkat kesulitan dalam membuat layangan Janggan membuat harga jual layangan legendaris ini jauh lebih tinggi dibandingkan layangan jenis lainnya. Kalau harga layangan jenis bebean, gunggungan dan lainnya sekitar Rp 40 ribu. Layangan Janggan dibandrol Rp100 ribu, selisih harga yang cukup signifikan.

“Harga layangan Janggan saya patok mulai Rp 100 ribu untuk ukuran satu meter ke bawah. Semakin besar, harganya pasti semakin tinggi,” tukasnya. Meski demikian, dikatakan para penghobi layangan Janggan tidak keberatan dengan harga tinggi dan permintaan tetap banyak.

“Bagi mereka yang memang hobi layangan, pasti ada rasa bangga dan senang melihat layangan Janggan bisa terbang. Karena kalau melihat layangan jenis lainnya sudah biasa,” ucap pemuda yang hobi bermain layangan tersebut. Bulan Mei ini karena musim layangan baru mulai, jadi belum begitu banyak orderan. Memasuki bulan Juni baru diungkapkan orderan akan semakin banyak karena mulai libur sekolah.

Karena bermain layanan menjadi hobi hampir semua anak laki – laki, bahkan hingga orang dewasa. Karenanya permainan tradisional ini kerap dilombakan di berbagai daerah di Bali. Hal tersebut tentunya mendatangkan banyak keuntungan bagi para perajin layangan.

“Bisnis layangan ini, bisnis musiman makanya saat tidak musim layangan saya gunakan untuk membuat stok layangan. Jadi pas musim, saya bisa pasarkan lebih banyak dengan target lebih banyak keuntungan tentunya,” pungkasnya.*pur/editor rahadi