Bangli (Bisnis Bali) – Teka teki maskot Kabupaten Bangli akhirnya mulai terkuak.  Dalam Fokus Group Discussion (FGD) serangkaian memperingati HUT Kota Bagli ke-815, Senin (6/5), Bupati Bangli I Made Gianyar mengisyaratkan bunga Gumitir dijadikan maskot Kabupaten Bangli. Menurutnya, selain memiliki fungsi ekonomi, agama dan seni, Gumitir juga mempunyai nilai religius, kemuliaan, keindahan dan kemasyarakatan.

Dengan memilih Gumitir sebagai maskot, ia berharap segala sesuatu yang baik dan berguna tidak sulit didapatkan di Kabupaten Bangli.  FGD yang dipusatkan di ruang Rapat Krisna Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bangli, menghadirkan narasumber Dr. Drs. Anak Agung Gede Raka, M.Si, Dosen Magister Administrasi Publik, Program Pasca Sarjana, Universitas Warmadewa Denpasar. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua PHDI Kabupaten Bangli Drs. I Nyoman Sukra, Ketua Majelis Madya Desa Pakraman Kabupaten Bangli I Made Rijasa dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemkab Bangli.

Gianyar mengatakan, sesungguhnya ide membuat maskot Kabupaten Bangli telah digagas sejak masa kepemimpinan Bupati Bangli Ida Bagus Gede Agung Ladip, dengan memilih bunga Pucuk Bang. Namun karena tidak ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup), akhirnya Kabupaten Gianyar yang memakainya.

Selanjutnya ketika kepemimpinan Bupati Bangli I Nengah Arnawa, muncul ide menjadikan Bunga Sandat sebagai maskot, bahkan sudah digarap dalam bentuk tarian. Namun tanpa diduga, Kabupaten Tabanan mengklaim Bunga Sandat telah menjadi maskotnya yang diperkuat dengan Perda.

Bupati Made Gianyar juga mengaku sempat terjadi perdebatan antara dirinya dengan Bupati Tabanan (Ni Putu Eka Wiryastuti). “Waktu itu saya mendapat undangan dari Bupati Tabanan untuk menghadiri acara. Ternyata di sana dipentaskan Tari Sekar Sandat. Seketika saya protes karena Kabupaten Bangli juga memakai sandat sebagai maskot. Di sana saya sempat debat table dengan ibu Bupati Tabanan. Saya katakan, bunga Sandat sudah lebih dulu dijadikan maskot oleh Kabupaten Bangli. Di sana saya ditanya, apa ada bukti bunga sandat jadi maskot Bangli. Kemudian saya telpon Kadis Budpar dan saya tanyakan ada yang mengatur maskot Bangli. Ternyata disampaikan tidak ada yang mengatur, baik itu Perda atau Perbup. Sedangkan maskot bunga sandat di Tabanan sudah diatur oleh Perda. Berdasarkan itu, saya tidak bisa lagi berdebat, karena tidak punya dasar hukum untuk mengklaim bunga sandat,” kenangnya.

Made Gianyar juga bercerita singkat bagaimana ia memilih dan berencana menjadikan Gumitir sebagai maskot. Menurutnya, ketika berbicara bunga gumitir, ia menilai bunga ini sangat baik, sama baiknya dengan bunga-bunga jenis lainnya, karena semua bunga merupakan ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. “Jadi kalau saya pribadi memberikan urutan penilaian, ini bunga nomor satu, ini bunga nomor dua dan seterusnya, sepertinya saya melampaui kewenangan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Maka saya berfikir, bunga gumitir itu baik, sama baiknya dengan bunga-bunga yang lain,” terangnya.

Ia berharap, FGD ini bisa memberikan hasil yang positif, sehingga Kabupaten Bangli bisa segera memiliki maskot. Ia juga berharap, dalam FGD ini naskah akademik bisa dihasilkan dan bisa ditindaklanjuti dengan produk hukum, baik itu Perda maupun Perbup.

Sementara itu narasumber FGD Anak Agung Gede Raka menyampaikan, maskot merupakan lambang pembawa keberuntungan atau keselamatan. Menurutnya, maskot dapat berupa orang, binatang atau benda. Namun dalam penentuan atau memilih sesuatu untuk dijadikan maskot, tentu melalui sebuah proses dan kajian yang mendalam.

Dipilihnya bunga gumitir sebagai maskot, karena selain bunga tersebut mudah tumbuh, harga terjangkau dan memiliki banyak manfaat, yang tidak kalah penting adalah, bunga tersebut memiliki nilai sosial dan representatif untuk suatu daerah yang hotrogen. *ita/editor rahadi