Serapan Pupuk Urea Bersubsidi di Bali Capai 10,9 ton

Mangupura (Bisnis Bali) –
Hingga 30 April 2019 realisasi penyaluran pupuk urea bersubsidi di Bali sudah mencapai 10.988 ton dari total alokasi 31.173 ton. Serapan terbesar terjadi di Kabupaten Tabanan dengan capaian 3,229 ton periode yang sama.

Mukri

Staf Account Executive Wilayah Bali, Mukri di sela-sela Sosialisasi Product Knowledge dan Media Tour Pupuk Kaltim 2019 di Kuta, Jumat (3/5) mengungkapkan, sesuai SK Permentan No 47/2018 alokasi pupuk urea bersubsidi di Bali dialokasikan 31.173 ton pada 2019 ini. Terkait itu pihaknya telah menyikapi dengan menyiapkan alokasi sesuai kebutuhan. Selain itu, dibantu dengan gudang penyangga yang mencapai 9 unit, 7 distributor, 163 kios, Account Executive (AE) / Sales Supervisor, Asisten AE yang tersedia diseluruh kabupaten/kota di Bali.
“Kapasitas dari total gudang penyangga di Bali ini mencapai 15,360 ton. Di sisi lain, per 30 April 2019 lalu untuk stok urea bersubsidi di Bali mencapai 2.693.500 ton, sedangkan untuk stok urea non subsidi mencapai 231.150 ton,” tuturnya.
Sosialisasi Product Knowledge dan Media Tour Pupuk Kaltim 2019 juga dihadiri oleh Wahyudi Manager Humas Pupuk Kaltim, Sunaryo Broto Staf Direktorat SDM dan Umum Bidang Change Management Pupuk Kaltim, Bambang Setyo Staf Pelayanan dan Komunikasi Produk Pupuk Kaltim. Lanjut Mukri, ketersediaan stok pupuk tersebut sudah sangat sesuai dengan aturan di Permendag No 15 tahun 2013, bahwa produsen menyediakan pupuk untuk keperluan satu bulan kedepan, sedangkan asumsinya untuk kebutuhan pupuk di Bali rata-rata dikisaran 2.000 an untuk per bulan.
“Hingga per 30 April sudah menyalurkan 35 persen dari total alokasi. Besar kemungkinan pada bulan mendatang stok pupuk urea bersubsidi akan sangat mencukupi untuk kebutuhan petani, terlebih lagi ada kapal pengangkut pupuk yang sudah sandar di Bali sehingga ketersediaan pasti akan sangat terjamin nantinya,” ujarnya.
Sambungnya, dilihat dari serapan per kabupaten/kota di Bali untuk pupuk urea bersubsidi, maka serepan tertinggi terjadi di Kabupaten Tabanan dengan capaian 3.229 ton pada 30 April. Di susul Gianyar dengan serapan mencapai 1.737 ton, Buleleng dengan serapan 1.543 ton, Karangasem 1.538 ton, Jembrana 988 ton, Badung 980 ton, Kelungkung 492 ton, Bangli 348 ton, dan Denpasar mencapai 224 ton.
Sementara itu, Bambang Setyo memaparkan, Pupuk Kaltim menjual urea, amonia dan NPK dengan pangsa pasar ke petani tanaman pangan melalui distribusi pupuk bersubsidi dan non subsidi. Selain itu, menyasar sektor perkebunan dan ekspor. Paparnya, hingga saat ini Pupuk Kaltim yang pabriknya berlokasi di Bontang mengoprasikan 5 pabrik amonia dengan kapasitas produksi mencapai 2,7 ton, 5 pabrik urea dengan kapasitas produksi 3,4 juta ton per tahun, dan pabrik NPK dengan produksi 350.000 ton per tahun.
“Khusus untuk ekspor, Pupuk Kaltim berkordinasi dengan Pupuk Indonesia dengan mengacu telah terpenuhinya kebutuhan pupuk bersubsidi di dalam negeri. Artinya, kebutuhan ekspor tersebut kami lakukan ketika ada sisa dari penyaluran yang sudah didistribusikan sebelumnya,” kilahnya.*man