Mangupura (Bisnis Bali) – Kementerian Perindustrian dalam hal ini Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) berupaya untuk mempersiapkan industri kecil dan menengah (IKM) menuju revolusi industri 4.0. Upaya ini dilakukan agar bisa memasuki era ekonomi digital, sebab model bisnis yang banyak dijalankan adalah berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

“Ke depannya, investasi bisnis akan cenderung mengarah kepada aktivitas usaha dengan platform yang kita kenal dengan istilah Industry 4.0,” kata Perwakilan Ditjen IKMA Ni Nyoman Ambareny saat pembukaan “e-Smart IKM 2019 di Kuta, Senin (29/4).

Menurutnya dengan makin berkembangnya penggunaan internet dan membaiknya infrastruktur telekomunikasi, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan pengguna internet di Indonesia pada 2017 mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68 persen dari total penduduk Indonesia. Penetrasi penggunaan internet tersebut diharapkan juga dimanfaatkan untuk usaha-usaha produktif yang mendorong efisiensi dan perluasan akses seperti jual beli online.

Transformasi digital dari proses jual beli konvensional menjadi jual beli online yang makin marak di Indonesia, tidak hanya untuk produk berupa barang bahkan jasa, menjadikan industri e-commerce memiliki tantangan besar tetapi menjanjikan potensi yang tidak kecil.

“Kami berharap e-commerce akan menjadi gerbang bagi pelaku IKM untuk melakukan transformasi digital dengan menggunakan alat promosi digital, sistem informasi digital, pembayaran digital, serta manajemen relasi dengan pelanggan secara digital pula,” ujarnya.

Diakui sejak 2017, Kementerian Perindustrian berupaya melakukan edukasi dan pembinaan terhadap IKM untuk masuk dalam e-commerce melalui program e-Smart IKM. Hal ini merupakan upaya pemerintah memperluas akses pasar IKM dan memperbesar presentase produk Indonesia di e-commerce.

“250 IKM dari Bali hadir hari ini dan berkolaborasi dengan 5 marketplace, 2 Fintech, 1 perbankan, 2 perusahaan pengiriman,1 jasa eksportir dan komunitas penyedia layanan Informasi berbasis open ERP,” paparnya.

Melalui program ini, pihaknya berharap akan menjadi penghubung bagi IKM untuk belajar bagaimana menggunakan platform digital untuk meningkatkan daya saingnya.

Sementara itu program e-Smart IKM sendiri diluncurkan oleh Kemenperin pada 2017 dan sampai dengan 2018 5.945 IKM turut serta dalam program tersebut dan membuahkan nilai transaksi Rp2 miliar lebih dan naik signifikan dari nilai transaksi tahun sebelumnya yang hanya Rp168 juta.

“Kami harap e-commerce menjadi gerbang bagi para pelaku IKM untuk melakukan transformasi digital. Event ini adalah serangkaian literasi digital commerce untuk IKM,” jelasnya.

Harapnnya setelah akses pasarnya diperluas melalui e-commerce, kemudian IKM akan membutuhkan promosi digital, sistem informasi digital, pembayaran digital, dan teknologi digital lainnya. Karenanya ada 12 kontributor atau marketplace yang bisa digunakan IKM yaitu Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Blibli, Blanja.com, Dana, OVO, Imooji, Odoo Indonesia Network, Mandiri, JNE, dan Si Cepat. *dik