Denpasar (Bisnis Bali) – Semua destinasi wisata di Indonesia, khususnya di Bali didorong untuk tersertifikasi pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism sebagai syarat untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. Sanur pun menjadi salah satu destinasi yang sudah menerapkan sustainable tourism, sesuai persyaratan destinasi pariwisata berkelanjutan yang mengadopsi standar internasional dari Global Sustainable Tourism Council (GSTC).

Authorized Trainer of GSTC Executif Director of Mark Plus Center for Tourism and Hospitality (MPCTH) Mochamad Nelendra di sela-sela GSTC Suistanable Training Program di Griya Santrian Beach Resort & Spa Sanur belum lama ini mengatakan GSTC adalah lembaga yang mengeluarkan indikator dan kriteria untuk destinasi dan industri pariwisata seperti hotel maupun travel agen. Ada kurang lebih 105 indikator dan 46 kriteria yang dimaksud yakni pengaplikasian prinsip-prinsip sustainable tourism.

“Empat pilar tersebut antara lain sustainable manajemen, social ekonomi, culture dan environment,” katanya.   

 

Menurutnya pemerintah Indonesia sendiri sudah melakukan kerja sama dengan GSTC hingga akhirnya melahirkan Permen Nomor 14 Tahun 2016. Isinya semua destinasi dianjurkan untuk mengikuti prinsip sustainability sesuai apa yang digagas GSTC .

Sebagai upaya, pihaknya menyelenggarakan kegiatan training secara reguler yang menyasar pemerintah, pelaku industri, akademisi, komunitas dan media yang konsen terhadap penerapan prinsip sustainable tourism. Termasuk ntuk para auditor yang ingin mensertifikasi destinasi atau travel agent.

Terkait pariwisata berkelanjutan, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur Ida Bagus Gede Sidharta Putra memastikan Sanur sudah melakukannya dengan adanya Yayasan Pembangunan Sanur. Tidak heran sebagai salah satu destinasi wisata populer di Bali, Sanur menyuguhkan panorama pantai yang apik, suasana yang nyaman bagi turis dan juga aneka jenis permainan air seperti sea walker hingga snorkeling.

“Jumlah kunjungan turis sampai saat ini stabil dan rata-rata mengaku puas ketika berkunjung ke Sanur,” tegasnya.   

Sementara itu Ketua Pasific Asia Travel Association (PATA) Bali & Nusa Tenggara Chapter, Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan para peserta training diajak keliling Sanur untuk mendalami prinsip-prinsip sustainable tourism, seperti mengunjungi Pasar Sindu, Griya Menuh dan Konservasi Coral.

“Sustainable tourism di Sanur terfigurkan oleh leadership dari Yayasan Pembangunan Sanur,” ungkapnya.

Kriteria GSTC berfungsi sebagai standar dasar global untuk keberlanjutan dalam perjalanan dan pariwisata. Kriteria digunakan untuk pendidikan dan peningkatan kesadaran, pembuatan kebijakan untuk bisnis dan lembaga pemerintah dan jenis organisasi lainnya, pengukuran dan evaluasi, dan sebagai dasar untuk sertifikasi. Ini adalah hasil dari upaya di seluruh dunia untuk mengembangkan bahasa umum tentang keberlanjutan dalam pariwisata.

Namun diakui, destinasi wisata kebanyakan di Bali tidak saja Sanur memiliki kelemahan pada pengelolaan lingkungan.

“Terutama pengelolaan sampah dan limbah. Maka itu, Bali perlu memperkuat manajemen pengelolaan sampah,” imbuhnya.*dik