Tabanan (Bisnis Bali) – Selain mengandung beta karoten, kelopak bunga gumitir juga merupakan sumber lutein yang bagus untuk kesehatan mata. Dengan mengolah bunga gumitir menjadi tepung bunga gumitir (marigold flour) bisa digunakan sebagai suplemen pakan ikan dan unggas.

Untuk membuat tepung gumitir menurut GM Bali Gumitir Group, Ervani Sjoekoer sangat mudah. “Prosesnya sangat mudah, tapi manfaatnya sangat luar biasa. Untuk ikan akan membantu meningkatkan kualitas warna pada ikan hias, sedangkan pada unggas akan membantu meningkatkan kualitas telur unggas,” kata pria yang akrab disapa Agus tersebut di Luwus, Tabanan.

Sebuah peluang baru untuk petani bunga gumitir karena bunga gumitir selain untuk sarana upacara, dekorasi dan juga landscape, sekarang bisa digunakan sebagai suplemen berupa pakan ikan dan unggas.

“Jangan ragu untuk berbudi daya gumitir. Kami berharap ke depan, di Bali juga bisa melakukan proses pengolahan bunga gumitir, di bawah komando Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Propinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, kami yakin peluang yang baik ini bisa dilaksanakan,” katanya.

Ia mengatakan, jenis bunga gumitir yang bagus  digunakan untuk pakan ikan adalah varietas deep orange, varietas saraswati dan varietas garuda orange. Ia mengatakan, proses budi daya juga sama seperti biasanya tidak ada perlakuan khusus. “Untuk feed/pakan tidak harus organik, tapi untuk food harus organik. Tapi memang alangkah baiknya kita di Bali mulai melakukan budi daya secara organik, seperti teman-teman petani di Karangasem yang sudah mulai menanam gumitir secara organik,” katanya.

Proses pengolahan hasil panen bunga gumitir menjadi feed atau pakan ikan yang dilakukan oleh Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Kota Depok sangat mudah. Bunga gumitir yang sudah dipanen, dihilangkan dahulu sisa air dengan cara diangin-anginkan. Proses selanjutnya adalah pemisahan petal (bagian orange) dari kelopak,  dengan bongolnya.

“Sisa dari proses ini bisa digunakan sebagai pupuk komposter. Jadi ada dua hasil yang dipenuhi dari proses pengolahan pascapanen,” ungkapnya.

Setelah petalnya terpisah, lakukan pengeringan pada suhu 30 – 35°C (suhu ruang), tanpa terkena sinar matahari langsung dengan ketebalan tumpukan petal adalah 2 cm, dibolik-balik setiap 1-2 jam sekali. “Proses ini berlangsung kurang lebih 3 hari sampai dengan kekeringan yang dibutuhkan. Baru dilakukan proses penepungan menggunakan mesin,” katanya.

Setelah menjadi tepung gumitir dilakukan pencampuran dengan bahan lain sesuai peruntukannya. Apa untuk pakan ikan atau unggas. Ini akan menjadi peluang besar bagi petani gumitir di Bali. *pur/editor rahadi