SELFIE - Wisman saat selfie di jaba Pura Penataran Lempuyang berlatar kemegahan Gunung Agung,  yang rutin erupsi.

BENCANA alam khususnya erupsi gunung, umumnya menakutkan. Namun, sebaliknya pada erupsi Gunung Agung yang bersahabat, bukan mengkhawatirkan atau menakutkan, justru mampu menarik kedatangan wisatawan untuk melihat erupsi Gunung Agung yang dipercaya sebagai linggih atau lingga stana para Dewa itu. Terkait gejolak dan disusul erupsi Gunung Agung sejak 2017, kedatangan wisatawan ke Karangasem naik sekitar 300 persen. Mengapa demikian? Berikut laporannya.

Sampai kini, gunung di wilayah Kabupaten Karangasem itu rutin erupsi kecil atau perlahan. Erupsi mengepulkan asap putih sampai kelabu, kalau erupsi agak kuat pada malam hari, terlihat sinar glow atau semburan lava pijar yang indah.

Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri, beberapa hari lalu di Karangasem di depan peserta simakrama efektivitas pemanfaatan frekuensi radio oleh desa adat di Karangasem mengungkapkan, wisatawan ke Karangasem tidak melihat dari bahaya erupsi gunung tertinggi di Bali itu. Pengunjung selain ingin melihat keindahan terkait erupsi rutin Gunung Agung tiap beberapa hari atau sekitar seminggu sekali, juga ingin melihat sesuai yang lain keindahan dan keunikan adat istiadat masyarakat Karangasem yang tak ada di kota/kabupaten lain di Bali.

“Sejak gejolak Gunung Agung yang sempat sangat mengkhawatirkan September 2017, dengan masyarakat Bali banyak berdoa memohon agar tidak terjadi bencana alam yang membahayakan, ternyata perlahan Gunung Agung gejolaknya mereda. Meski meletus, tetapi berlahan, dengan mengepulkan asap putih sampai kelabu. Tak hanya orang Bali, wisatawan atau orang luar pun meyakini kalau kita berdoa memohon dengan tulus, Tuhan akan mengabulkan,” katanya.

Wisatawan kian banyak datang ke Karangasem, melihat keindahan Gunung Agung dan keunikan objek wisata lainnya. Gunung Agung bisa dillihat dari objek wisata Bukit Surga di puncak Bukit Nampo, Desa Jungutan, dari Bukit Cinta di Gelumpang, dari Taman Harmoni Bali di puncak Bukit Asah Bugbug, dan paling favorit dari Bukit Lempuyang atau dari jaba (depan) Pura Penataran Lempuyang. “Ayo, berwisata ke Karangasem. Karena sangat banyak objek wisata bahkan yang baru ditata masyarakat seperti Taman Bunga Padang Kasna, Bukit Jinja, Taman Edelweis, banyak spot swafoto (selfie) yang aman dan indah bisa melihat panorama pantai dan Gunung Agung menjulang dari atas pantai Bunutan,” katanya.

Dengan potensi wisata yang dimiliki Karangasem, kata Kadis Pariwisata Karangasem Drs. I Wayan Astika, target pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata di Karangasem pun, naik sekitar 100 persen, yakni dari sekitar Rp8 miliar menjadi Rp14 miliar lebih. Pihaknya masih berupaya melengkapi kawasan atau objek wisata seperti membuat plang kawasan masuk objek wisata dan pos retribusinya. “Kalau kita sudah menyediakan fasilitas atau infrastruktur pendukung, barulah kita layak memungut pajak atau retribusi di suatu objek wisata,” katanya.

Lonjakan kunjungan wisman ke Karangasem, khususnya ke Bukit Lempuyang, diakui Pengurus Sekeha Guide Pura Lempuyang, Wayan Wardana, saat ditemui Jumat (19/4) lalu. Ia mengatakan, pada hari biasa rata-rata sehari kunjungan wisman berkisar 600 orang. Pada hari libur, kian banyak lagi karena adanya kunjungan wisatawan lokal Bali sembari sembahyang terutama pada Purnama.

“Memang daya tarik Gunung Agung dari jaba Pura Penataran Lempuyang ini sejak gejolak atau erupsi Gunung Agung sekitar November 2017. Terkenal setelah beredar luas  foto-foto erupsi Gunung Agung. Memang dari jaba Pura Penataran Lempuyang dengan candi bentar yang megah sangat indah berfoto atau selfie. Gunung Agung menjulang megah dan indah, terasa dekat puncaknya, tetapi sangat aman saat erupsi. Dulu sebelum kunjungan ke jaba pura atau Bukit Lempuyang melonjak tajam kunjungan per hari wisman hanya puluhan, kini ratusan. Rata-rata 600 orang per hari pada hari biasa kalau musim ramai, lebih banyak lagi,” katanya.

Wisman yang melihat Gunung Agung dari jaba Pura Penataran Lempuyang, paling banyak dari Asia seperti Cina, Korea, Taiwan dan juga India, selain dari Australia, Eropa dan Amerika. Mereka rela antri berfoto atau swafoto sampai menunggu giliran sampai 2 jam. “Mereka senang, ada yang berfoto dengan gaya seolah melamar kekasihnya atau ada seolah-olah terbang,” ujar Wardana.

Sementara itu, Pengelola Taman Tirtagangga, Karangasem, AA Made Kosalya Sanjaya mengakui, sejak ramainya wisatawan melihat keindahan Gunung Agung dari Bukit Lempuyang, objek wisata Tirtagangga khususnya yang satu jalur jalan raya ke Lempuyang, juga kecipratan. Kunjungan ke Taman Tirtagangga meningkat, karena satu paket. Mereka mampir di Tirtagangga sebelum ke Lempuyang atau setelah pulang dari Lempuyang. Namun, jumlah kunjungan ke Tirtagangga tentu tak sebanyak yang ke Lempuyang. Pada hari biasa atau di laur musim ramai, rata-rata kunjungan wisman ke Tirtagangga 300 sampai 400 orang per hari. “Pada musim ramai misalnya Juli, Agustus, September, lebih banyak lagi, karena kunjungan terus meningkat, kami juga terus melakukan penataan Taman Tirtagangga, tanpa mengubah konsep ketika kakek kami membangunnya pada sekitar 1948. Pancuran tempat melukat sudah kami perbaiki, dua buah jukung tradisional dipakai wisatawan naik jukung keliling kolam,” ujar Agung Kosalya. *bud/editor rahadi