Ciptakan UMKM Skala Ekspor, BI Siapkan Pasar bagi Petani Gula Semut Bali

Yogyakarta (Bisnis Bali) – Potensi petani gula kelapa Bali, khusus di Jembrana untuk menghasilkan gula semut atau brown sugar sangatlah besar. Itu didukung hasil dan kualitas kelapa di Jembrana bisa menghasilkan gula semut terbaik.
“Peluang gula semut sangat besar, sayang belum tergarap dengan baik. Bila tergarap dengan baik bisa menjadi sumber ekonomi baru dan bisa mengangkat perekonomian petani kelapa maupun UMKM di daerah tersebut, maupun Bali,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Causa Iman Karana saat Lokakarya Kehumasan dan Kebanksentralan KPw BI Bali di Yogyakarta.

Causa Iman Karana

Ia mengatakan, gula semut adalah gula merah versi bubuk dan sering pula disebut orang sebagai gula kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yang bersarang di tanah. Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon kelapa atau pohon aren.
Menurut CIK biasa ia disapa, keistimewaan gula semut adalah memiliki rasa dan aroma yang khas yang berasal dari bahan pembuatnya, yaitu nira. Dibandingkan dengan gula cetak, pengolahan nira menjadi gula semut akan lebih menguntungkan karena harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan gula cetak, berbentuk serbuk sehingga lebih luwes pemakaiannya dibandingkan gula cetak dan lebih mudah penyimpannya serta memiliki umur simpan lebih lama.                   
Industri gula semut atau gula merah bubuk di dalam negeri mampu menghasilkan produk yang diminati pasar internasional. Meski pengolahannya masih banyak dilakukan secara konvensional, namun produk gula semut telah berhasil menembus pasar ekspor ke beberapa negara seperti Amerika, Eropa, Srilanka, Australia dan Jepang.   
Melihat peluang tersebut, KPw BI Bali mulai mengidentifikasi pengembangan gula semut di Desa Pendem, Jembrana. Kelompok Mawar Bali, terdiri dari petani gula kelapa sejumlah 20 orang yang berada di sekitar Bukit Mawar, Desa Pendem, Jembrana dibina untuk menghasilkan produk gula semut berkualitas ekspor.
“Untuk itu, petani gula kelapa tersebut diajak mengikuti kunjungan belajar ke Yogyakarta terutama ke Control Prosessing Unit Suropati, Kulonprogo,” ujarnya. 
Kunjungan petani Bali belajar ke Yogyakarta selain untuk meningkatkan produksi, belajar mengolah gula kelapa menajdi gula semut, juga mengetahui bagaimana menangkap peluang pasar untuk ekspor. Hasil ini diharapkan dapat berdampingan dengan hilirisasi produk cokelat dan kopi yang sudah mampu ekspor.
“Fokus kami kini bagaimana petani Bali ini bisa memproduksi gula semut karena dari sisi harga tentunya lebih mahal dan bernilai bisnis,” terangnya.
BI Bali siap mendampingi dan mencarikan peluang pasar mengingat brown sugar makin banyak terserap ke hotel-hotel. Untuk itu BI akan berkoordinasi dengan pelaku pariwisata, khususnya di kalangan hotel agar menyerap gula semut petani Bali. Tujuannya ada pasar dalam hal ini hotel-hotel di Bali untuk menyerap hasil gula semut di daerah ini, bukannya mendatangkan gula semut dari daerah lain.
“Ini juga dapat mendorong ekonomi berkelanjutan,” jelasnya.
Ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah lewat Pergub No. 99 tahun 2019 tentang penguatan produk lokal.       
Sementara itu Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Jatirogo (Jaringan Petani Kulon Progo) Dusun Tambak, Desa Triharjo, Kec. Wates Kab. Kulon Progo, FX Hendro Utomo mengatakan, pembuatan gula semut ini dimulai karena pada 2006 petani mengeluh harga gula batok sangat murah, tidak sebanding dengan pekerjaannya mengolah nira atau aren menjadi gula batok. Gula batok hanya dihargai Rp2.500 per kg, sementara harga beras yang menjadi kebutuhan pokok Rp7.500 per kg. Kondisi itu membuat ibu rumah tangga petani gelisah. Namun, kondisi itu kini berbalik 180 derajat menyusul berdirinya KSU Jatirogo bebepa tahun kemudian. “Setelah ada koperasi yang menangani gula merah, harga gula semut organik naik drastis dan ini meningkatkan pendapatan petani gula mengingat harga gula merah setelah masuk ke koperasi kini di atas Rp20 ribu per kg,” tuturnya.
Diakui karena produk organik sehingga bisa kita jual dengan harga tinggi. Setiap tahun dicek di Lab Belanda untuk memastikan dari awal sampai akhir proses pembuatan gula semut ini benar-benar organik.
Ia pun mengatakan pentingnya pasar yang adil dalam artian produsen bisa mengatur harga sehingga 1.500 petani yang menjadi anggota KSU juga bisa untung. Melalui koperasi Jatirogo, pasar ekspor dikembangkan dengan melihat keinginan dan kebutuhan konsumen serta mengikuti tren pasar. Setiap tahun, mereka bisa mengekspor rata-rata 72 ton per tahun. 

Saat ini harga gula semut untuk ekspor mencapai 3,2 dolar per kg, sementara sebelum diproses sekitar Rp20 per kg.
Ia menyebutkan ada ketentuan grade produk gula semut organik yang ditetapkan di KSU Jatirogo yaitu produk organik berasal dari produk petani organik anggota Internal control system (ICS), produk kering oven dengan kadar air <1,5 persen hingga 2 persen, produk bersih dari kotoran, bersih dari campuran benda asing, aroma khas gula kelapa asli atau aroma unik dan karamel. Termasuk warna cokelat muda, rasa manis gula kelapa dan caramel, tidak ada campura gula tebu, tidak ada campuran natrium bisulfit dan ukuran butiran gula semut masih 12-18 atau tergantung permintaan pembeli.   Penasihat Kelompok Gula Semut Mawar Sari Jembrana Wayan Diandra mengatakan potensi bahan baku gula semut di Jembrana sangat besar, bahkan kualitas gula merah dari desanya sangat bagus.   

Yang perlu mendapat perhatian adalah masalah pengemasan agar bisa memenuhi standar. “Kami yakin bisa menghasilkan brown sugar yang berkualitas tinggi mengingat kualitas kelapa Jembrana sangat bagus,” ucapnya.
Ia berharap dengan adanya pengembangan gula semut di Jembrana ini, tidak ada lagi gula semut yang masuk ke Bali, karena Bali mampu memproduksi sendiri. *dik