Difungsikan untuk “Center Point”, Pengelola DTW Jatiluwih Bantah ada Fasilitas Helipad

Sejumlah wistawan berfoto bersama di titik center point di kawasan DTW Jatiluwih

Tabanan (Bisnis Bali) –
Guna terus menarik angka kunjungan wisatawan ke daya tarik wisata (DTW) Jatiluwih, pengelola obyek yang mengandalkan keindahan terasiring sawah ini terus melakukan penataan kawasan. Salah satunya adalah dengan membuat tempat center point di tengah-tengah DTW Jatiluwih yang oleh sejumlah kalangan dianggap sebagai helipad untuk komersial.
“Fasilitas helipad di tengah-tengah kawasan itu tidak benar adanya. Sebab, yang dibilang helipad itu sebenarnya central point atau titik kumpul bagi pengunjung. Fungsinya adalah untuk memberi kenyamanan kepada para pengunjung,” tutur Manager DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa, Senin (22/4).
Terangnya, center point tersebut dibangun tepat di sebuah pertigaan jalan subak di tengah-tengah kawasan DTW Jatiluwih, memanfaatkan lahan yang tidak produktif milik anggota subak (petani). Terangnya, tujuan dari pembangunan center point obyek tersebut adalah untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang mengharapkan informasi tentang DTW Jatiluwih, di sisi lain juga untuk memberi kenyamanan bagi petani (subak) agar tidak terganggu dalam memakai jalan subak guna aktifitas pertanian sehari-hari.
Jelas Sutirtayasa, bercermin dari itu center point tersebut bisa dibilang sebagai titik kumpul yang aman (fasilitas) di kawasan DTW Jatiluwih. Akuinya, sebagai pengelola hanya melakukan penataan tempat tersebut untuk kepentingan umum, karena di dalam mengelola kawasan subak yang menjadi hak milik petani supaya tidak ada gesekan, khususnya antara wisatawan dan petani karena sebuah pariwisata yang berbasis pertanian harus bersinergi agar ada sebuah keberlanjutan nantinya.
Sambungnya, selain difungsikan sebagai titik kumpul bagi wisatawan, center point juga bisa menjadi alternatif bagi tim SAR untuk mendarat, jika memerlukan penanganan cepat apa bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Itu seiring dengan obyek DTW Jatiluwih yang selain menyajikan panorama terasering persawahan, kawasan ini juga menjual aktifitas alam. Diantaranya, treking, hiking, cycling dan aktifitas alam lainya.
“Sebuah aktifitas alam tidak menutup kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan, maka center point ini bisa difungsikan untuk penanganan cepat dari tim SAR, mengingat DTW Jatiluwih cukup jauh dari kota dan berada di kaki gunung Batu Kau,” paparnya.
Tambahnya, sebagai pengelola pihaknya dituntut harus siap dengan segala kemungkinan, itu sekaligus dalam rangka memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan dan juga bagi petani ( subak) yang dijadikan obyek di DTW Jatiluwih. Selain itu, akuinya sebelumnya memang sempat ada helikopter mendarat di area center point, namun itu untuk kepentingan shooting promosi festival Jatiluwih dan hanya sekali dan tidak ada komersilkan.
“Jika di sebut sebagai helipad tempat tersebut tidak memenuhi sarat kelayakan pendaratan helikopter, sehingga tidak mungkin di komersilkan,” kilahnya.*man