SDM - Dalam era Revolusi Industri 4.0 tenaga kerja pariwisata dituntut meningkatkan kualitas SDM.

Denpasar (Bisnis Bali) – Pada 2018 IHGMA mulai meluncurkan program skill development termasuk pelatihan dan sertifikasi para GM anggota IHGMA untuk mendapatkan pengakuan keahlian bidang perhotelan dari BNSP RI.

Ketua DPD IHGMA Bali, I Nyoman Astama, S.E., CHA, Sabtu (20/4) mengatakan, tahun 2019 ini pihaknya mencoba untuk menggali secara holistik permasalahan-permasalahan anggota di era digitalisasi industri 4.0 yang didominasi akibat kemajuan teknologi sehingga peningkatan soft skills para anggota dirasakan makin urgent di tengah persaingan yang multidimensi dan agresif ini.

Ia mengatakan, IHGMA selama ini telah diakui keberadaannya dan cukup banyak dilibatkan oleh stakeholder dan pemerintah dalam pembahasan-pembahasan terkait kepariwisataan di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Ini merupakan media yang sangat bagus bagi para GM di Indonesia untuk bersatu dalam asosiasi profesi sehingga dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan dan sharing knowledge antar-GM. “Sesuai tagline IHGMA yaitu Professional-Integrity-Networking, kami mengedepankan partisipasi dan berbagi antar-anggota demi kemajuan bersama, dan secara eksternal agar dapat berkontribusi secara positif bagi masyarakat, industri dan pemerintah,” kata Astama yang saat ini juga adalah Founder and Managing Director NUSA Hospitality Management.

Director of Operations Global Hospitality Expert (GHE), K. Swabawa, CHA,  dalam seminar bertema Unveiling The Industry 4.0 Impact and Challenges for Hospitality Industry memaparkan,  beberapa keypoint terkait digitalisasi dan tantangan yang terjadi berikut alternatif solusi yang harus diperhatikan oleh pimpinan hotel.

Swabawa mengatakan, fenomena disrupsi dan kemajuan sistem robotic software harus dapat dikombinasikan dengan baik agar pelayanan prima secara berkepribadian (human personalize service) sebagai core business dunia perhotelan senantiasa dapat ditampilkan sesuai adaptasi kemajuan peradaban manusia. “Industri lainnya bisa menerapkan 75-90 persen adalah sistem robotic.

Sementara di dunia perhotelan tentunya tidak dapat diasumsikan seperti demikian, kalaupun ada itu sifatnya adalah thematic concept yang memiliki market segmen tertentu. GM membutuhkan wawasan yang luas dalam menyikapi fenomena ini, ” ucap Swabawa yang juga Wakil Ketua DPD IHGMA Bali ini. *kup/editor rahadi