Denpasar (Bisnis Bali) – Sebagian masyarakat merasakan pertanian sudah tidak terlalu menguntungkan saat ini.  Di samping luas lahan yang kian berkurang, hasil produksi dan harga pasar yang tidak sesuai juga menjadi kendala dan membuat jumlah rumah tangga pertanian menurun. Harus ada alternatif lain yang digunakan, seperti mensinergikan pertanaian dengan pariwisata yang merupakan industri unggulan Bali.

Akademisi dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. Ir. I Ketut Satriawan, M.T., belum lama ini mengatakan, penguasaan lahan bagi para petani masih terbatas. Artinya, dari skala ekonominya menguntungkan tetapi tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Dengan begitu, keuntungan yang didapatkan petani tidak mencukupi kebutuhan secara keseluruhan.

Di satu sisi karena luas lahan terbatas menyebabkan profesi petani bukan lagi menjadi pekerjaan utama. “Pertanian ini menjadi nomor dua kemudian dia akan mencari pekerjaan lain yang lebih menguntungkan,” ujarnya. Sementara pekerjaan petaninya dilakukan orang lain atau dia menyewa tenaga kerja untuk mengerjakan lahan pertaniannya.

Di samping itu, hasil produk tersebut tidak bisa diolah menjadi produk turunan berikutnya, karena masalah kuantitas. Selain itu juga kendala jarak dan akses yang tidak memadai untuk menyambungkan produk pertanian satu dengan lainnya untuk diolah menjadi produk turunan baru. “Misalnya ada hasil-hasil tertentu yang tempatnya berjauhan. Kemudian tidak bisa disatukan sebagai suatu bahan baku yang diolah menjadi produk turunan berikutnya sehingga fresh produknya, misalnya jeruk pas musim panen atau salak pada saat musim anen di areal-areal produksi itu menjadi tidak bisa dipasarkan secara menyeluruh,” bebernya.

Keberlanjutan hasil pertanian ini juga yang menjadi kendala terkait suplai ke pasar, karena pasar menginginkan kepastian pasokan dan keberlanjutannya. Dengan kondisi ini, petani secara cerdas berpikir, dengan menekuni pekerjaan petani namun tidak bisa menghidupinya secara penuh, secara naluri mereka akan mencari yang lebih baik.

Untuk kembali menggairahkan sektor pertanian, pertanian harus berkolaborasi dengan pariwisata. Pariwisata menjadi leading sector yang menghasilkan pendapatan yang baik di Bali saat ini. Menurutnya, di sinilah perlunya sinergi antara sektor pertanian dan sektor pariwisata. Sektor pertanian dari sisi bisnisnya memberi keuntungan yang terbatas, karena penguasaan lahan yang terbatas.

Jika pertanian bisa disinergikan dengan sektor pariwisata, yakni sektor pertanian ini bisa menjadi salah satu destinasi atau daya tarik seperti agrowisata, maka akan ada nilai tambah yang diperoleh dari sektor pariwisata, lebih tinggi dibandingkan hanya dia menghasilkan bahan baku pertanian. “Seperti kopi luwak, kalau dijual secara secara konvensional, tradisional, harganya tidak lebih dari Rp 5.000. Tetapi kalau di agrowisata satu cangkir bisa Rp 50.000,” ungkapnya. *wid