Panen Raya, Harga Gabah di Tabanan “Nyungsep”di Bawah HPP

proses penggilingan gabah

Tabanan (Bisnis Bali) –
Panen raya tahun ini membuat harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Tabanan nyungsep atau turun tajam dari sebelumnya. Ironisnya penurunan tersebut bahkan memposisikan harga jual gabah, khususnya untuk varietas Inpari hingga berada di bawah ketentuan harga pembelian pemerintah (HPP).
Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Bali, AA., Made Sukawetan, di Tabanan, Jumat (19/4) mengungkapkan, panen raya tahun ini membuat harga gabah sejumlah varietas mengalami penurunan yang cukup tajam dari sebelumnya. Salah satunya terjadi pada varietas padi Inpari dengan harga jual menyentuh Rp 3.300 per kg kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani atau turun dari kisaran Rp 4.000 an per kg sebelumnya.
“Selain varietas Inpari, hal sama juga terjadi pada padi varietas F8 yang berada di bawah HPP sejak tiga minggu terakhir. Patokan HPP dari pemerintah adalah Rp 3.700 per kg di tingkat petani dan Rp 3.750 per kg di tingkat penggilingan,” tuturnya.
Jelas Sukawetan, kondisi harga padi untuk varietas Inpari dan F8 merupakan yang terparah pada musim panen sekarang ini. Di sisi lain untuk padi varietas lainnya, seperti Ciherang dan padi varietas Chigelis mengalami penurunan dari kondisi sebelumnya, namun masih berada dikisaran di atas HPP. Yakni, dikisaran Rp 4.000 an per kg di tingkat petani saat ini.
“Penurunan harga tersebut, salah satunya dialami sejumlah petani di daerah Tanguntiti Kerambitan yang saat ini memasuki musim panen, dan juga di daerah lainnya di Kabupaten Tabanan untuk varietas yang sama,” ujarnya.
Paparnya, selain disebabkan karena meningkatnya jumlah gabah di tingkat petani pada musim panen saat ini, perbedaan harga antar varietas padi tersebut disebabkan karena untuk padi varietas Inpari dan F8 ini meski memiliki keunggulan dari segi ketahanan terhadap serangan hama, sayangnya dua varietas padi tersebut memiliki rendemen atau tingkat broken yang cukup tinggi ketika diproses menjadi beras.
“Padi varietas Inpari dan F8 ketika diproses menjadi beras hanya bisa menghasilkan 47- 48 persen,” ujarnya.
Sementara itu, akui pemilik usaha penyosohan gabah UD., Sari Murni ini, terkait turunnya harga gabah di tingkat petani, bahkan yang suduah menyentuh HPP, pihaknya tidak memiliki tanggung jawab lagi seiring dengan tidak berlanjutnya program dana penguatan modal usaha ekonomi pedesaan (DPM LUEP) dari pemerintah daerah Provinsi Bali pada tahun ini. Terang Sukawetan, sejak 2018 Perpadi tidak ada lagi mendapatkan bantuan dana LUEP yang diperuntukkan sebagai tambahan modal agar bisa membeli gabah petani pada musim panen.
“Kami tidak bisa lagi pasang badan untuk ikut menyelamatkan harga gabah ditingkat petani pada musim panen. Kini, tanpa adanya bantuan DPM LUEP, kami hanya membeli gabah sesuai dengan kemampuan, terlebih lagi untuk melakukan pembelian gabah mengandalkan pinjaman dari kalangan perbankan,” kilahnya.
Tambahnya, kini rata-rata serapan gabah di petani hanya mencapai 2 ton per hari, jauh menurun dari sebelumnya yang bisa mencapai 20 ton per hari. Akuinya, turunnya aserapan gabah tersebut, selain terkait permodalan yang terbatas untuk pembelian gabah, disebabkan juga oleh permintaan pasar untuk beras di masyarakat dan sejumlah perkantoran yang juga menurun saat ini.*man