Buah manggis Bali yang sudah disortir. 

TERBUKANYA kran ekspor manggis ke Cina memberikan semangat tersendiri kepada petani manggis di Bali khususnya di Kabupaten Buleleng. Manggis yang biasanya dibeli dengan harga relatif murah kini mencapai Rp25.000 – Rp30.000 per kilogramnya.

Hal itu juga diungkapkan Kabid Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Gede Subudi, S.P., ketika diwawancarai Bisnis Bali di kantornya belum lama ini.

Dia menjelaskan, dengan terbukanya peluang ekspor manggis ke Cina, tentu akan meningkatkan pendapatan petani manggis. Petani sudah mendapat kepastian soal harga dan tidak seperti sebelumnya harga manggis ditentukan oleh para tengkulak. Ditambahkan Subudi, sejauh ini sudah ada tiga kebun manggis milik tiga kelompok tani, yakni Desa Sekumpul, Galungan dan Desa Lemukih yang ada di Kecamatan Sawan yang kebunnya sudah teregistrasi sebagai salah satu persyaratan agar buah manggis dapat menembus pasar ekspor

Ditambahkan Subudi, upaya untuk makin membangkitkan gairah petani manggis di Buleleng dalam meningkatkan kualitas tanaman dan buah,  yakni dengan memberikan pelatihan-pelatihan khusus kepada petani yang bersinergi dengan PT Bali Organik Subak (BOS) selaku eksportir manggis seperti pelatihan sortir manggis. “Kerusakan yang sering terjadi selama ini pada buah manggis itu disebabkan karena kurangnya pemahaman petani dalam memetik yang menyebabkan lecet kulit atau timbul getah kuning di sela-sela daging buah yang dapat menyebabkan buah terasa hambar,” imbuhnya.

Pelatihan ini tentu bertujuan agar petani mengetahui buah seperti apa dan kualitas seperti apa yang dibutuhkan oleh Cina termasuk bagaimana teknik memetik buah manggis yang baik dan benar.  Selain itu salah satu penyebab kerusakan buah manggis karena buah jatuh dari pohon atau dari alat pemanenan sehingga terjadi benturan pada buah. “Buah manggis itu benar-benar diperlakukan secara halus,” terangnya.

Dalam minggu-minggu ini pihaknya juga akan melakukan persiapan registrasi kebun pada dua kelompok tani yang ada di Desa Sepang  Kecamatan Busungbiu dan Desa Sidatapa Kecamatan Banjar. Pihaknya juga sedang mempersiapkan kelompok-kelompok petani di desa lain seperti Unggahan, Bongan Cina dan Banyuseri yang memiliki potensi dalam pengembangan buah manggis. “Kita targetkan semua kebun manggis teregistrasi karena registrasi kebun ini yang harus semangat itu petaninya karena sebagian dokumen dalam registrasi kebum harus disiapkan oleh petani, tidak hanya dokumen juga penerapan good agriculture practice (GAP),” jelasnya. *ira/editor rahadi