2019 Properti mulai ”Bernapas” Lega

Memasuki akhir tahun 2019, tampaknya para pelaku jasa konstruksi dan properti mulai bernapas lega.

Denpasar (bisnisbali.com) –Memasuki akhir tahun 2019, tampaknya para pelaku jasa konstruksi dan properti mulai bernapas lega. Sektor yang pada 2018 silam sempat dikatakan mati suri, tahun 2019 sudah mulai menggeliat.

Salah satu pelaku konstruksi IGN Hari Pawitra, S.T. mengatakan, meski tidak naik signifikan tahun 2019 ini bisa menjadi awal yang baik bagi para pelaku jasa konstruksi dan properti. Keinginan masyarakat untuk membangun tampaknya sudah terlihat meski jumlahnya masih sangat kecil.
“Kalau dipersentase kenaikan memang kisaran 30 %, namun tentu bagi kami para pelaku jasa konstruksi sudah sangat menggembirakan dibandingkan tahun 2018 lalu. Saat itu jasa konstruksi memang benar-benar mati suri, ditambah juga adanya kenaikan beberapa bahan bangunan yang disebabkan fluktuasi perekonomian serta adanya beberapa bencana besar,” terang Hari Pawitra.

Geliat konstruksi memang kebanyakan untuk rumah tinggal dengan ukuran standar. Artinya pembangunan lebih ke rumah tinggal, sementara untuk hotel, penginapan atau bangunan gedung perkantoran diakui masih kecil dan kebanyakan sifatnya hanya renofasi. Hari Pawitra mengatakan, untuk bangunan rumah owner lebih mengutamakan untuk struktur bangunan, sementara untuk finishing mereka masih memilih model yang sederhana atau umum, sehingga bisa menekan pengeluaran. “Kebanyakan owner kita lebih mengutamakan struktur bangunan terlebih dahulu, dan memilih finishing dilakukan bertahap. Kalaupun langsung melaksanakan proses finishing, mereka lebih memilih bahan yang standar dan umum sehingga bisa menekan cost atau pengeluaran,” terangnya.

Sementara itu Wayan Heriana salah seorang pemilik toko bangunan di Denpasar mengatakan, harga bahan bangunan sepanjang tahun 2019 lebih stabil dibandingkan dengan tahun 2018. Hal ini disebabkan adanya fenomena erupsi Gunung Agung yang mengakibatkan kendala dalam pencarian beberapa bahan bangunan seperti pasir, koral dan batu. “Kalau tahun lalu pasir cor sempat di harga Rp2,5 juta per truknya dan ini naik drastis. Selain naik barang juga tidak ada karena aktivitas penggalian di kawasan Karangasem sempat dihentikan, sementara tahun ini harga stabil di angka Rp1,8 juta hingga Rp2 juta,” ungkap Heriana.

Hal senada juga di ungkapkan Made Edi Sandiana owner toko bangunan di bilangan Jalan Sedap Malam Denpasar. Dia mengatakan, tahun ini penjualan sudah mulai normal meski kenaikan tidaklah banyak, kebanyakan konsumen membeli besi, batu, pasir, semen dan batako. Artinya pembangunan kebanyakan masih di tahap konstruksi, sementara untuk keramik, cat dan bahan finishing lainnya jumlah permintaan tidak terlalu banyak.

“Sepertinya geliat untuk membangun baru dimulai sehingga kebanyakan konsumen masih memerlukan seputaran bahan untuk konstruksi saja, dan kebanyakan dari mereka memiih membangun secara bertahap. Semoga saja tahun yang akan datang kondisinya akan membaik dan dunia konstruksi dan properti kembali membaik dan meningkat. Selain itu kita juga berharap kondisi perekonomian stabil sehingga tidak mengakibatkan kenaikan harga pada item tertentu,” jelas Made Edi Sandiana. *ita

BAGIKAN