PADAT KARYA - Pengembangan industri padat karya guna menggeliatkan kegiatan ekspor.

Mangupura (Bisnis Bali) – Pasca pelemahan nilai rupiah terhadap nilai mata uang dollar AS pelaku ekonomi di Bali khususnya mesti menggeliatkan kegiatan ekspor. Dewan Pembina Apindo Bali, Panudiana Kuhn Minggu (18/11) mengatakan pelaku ekonomi mesti menggeliatkan industri padat karya untuk menopang kegiatan ekspor.

Diungkapkannya, pemerintah dan sektor perbankan mesti mendukung perkembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sektor UKM ini memiliki peran besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan sektor UKM dapat menggerakan industri padat karya. Sektor industri ini banyak menyerap tenaga kerja. “Ini praktis akan mengurangi angka pengangguran,” ucapnya.

Produk hasil industri padat karya ini mesti terus ditingkatkan kualitasnya. Produk yang diproduksi mesti disesuaikan dengan kebutuhan pasar.  Industri padat karya ini meliputi pengolaha  hasil laut/ikan, garmen, manufaktur, hendicraf. Ketika industri padat karya ditingkatkan akan menodorong kegiatan ekspor.

Dalam pengembangan industri padat karya ini membutuhkan modal. Kredit usaha rakyat (KUR) yang diprogramkan pemerintah diharapkan betul-betul menyentuh sektor UKM. Industri padat karya khususnya hendicraf yang paling murah modal. Pelaku usaha hanya menyediakan fasilitas gudang yang representatif bisa menampung bahan baku, para pekerja dan pelaksanaan proses produksi.  ” Sekarang bagaimana pelaku usaha bisa terus mengembangkan industri padat karya,” tandasnya. (kup)