Gianyar (Bisnis Bali) – Untuk mengisi waktu luang, para warga binaan rutan kelas II B Gianyar membuat berbagai kerajinan yang menghasilkan sehingga masih bisa memberi nafkah untuk keluarga atau sekedar memenuhi kebutuhan mereka.

Menurut penanggung jawab kegiatan Wayan Sudana, kerajinan yang dibuat jenisnya beragam mulai dari alat sembahyan, nampan, celengan, tempat sembahyang atau bokor serta masih banyak lagi.

“Hasil kerajinan beragam, dan kita sengaja membuat keperluan masyarakat agar nantinya memiliki nilai jual yang tinggi dan yang memerlukan juga banyak, jadi begitu rampung kerajinan yang di buat bisa langsung dijual,” ungkapnya.

Salah satu warga binaan Gusti mengaku bersyukur bisa dibina untuk membuat kerajinan ini, karena meski di rumah tahanan, dirinya tetap bisa menabung untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. “Paling tidak dengan membuat kerajinan ini saya tidak membebani keluarga, minimal untuk keperluan senduri,” katanya.

Warga binaan diajarkan untuk membuat kerajinan yang berbahan dari koran bekas yang diolah menjadi kerajinan tertentu. Bahan baku ini juga tak sulit didapatkan, bahkan pengurus bisa dengan mudah mendapat koran bekas.

“Intinya diperlukan kesabaran dan keuletan, agar kerajinan ini bisa bagus dan rapi. Untuk menguasai pembuatan kerajinan ini juga tak lama yang penting ada kemauan. Apalagi di tempat ini pastinya warga binaan punya banyak waktu luang segingga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan positif,” terang Wayan Sudana.

Mengenai pemasaran, Wayan Sudana mengaku masih di lingkungan rutan karena hasil kerajinan masih terbatas. “Yang paling diminati orang adalah tempat sarana upacara seperti keben dan bokor, untuk order ini listnya panjang, alias menunggu antrean, karena ini kegiatan untuk mengisi waktu luang jadi pengerjaannya juga saat mereka tidak punya kesibukan. Melihat pesanan yang panjang ini kita belum sampai memasarkan sampai keluar,” ungkapnya. (ita)