Udeng Batik Ikuti Mode di Masyarakat

Denpasar (Bisnis Bali) – Masyarakat Hindu Bali memiliki kegiatan agama, adat dan budaya yang cukup banyak. Hampir setiap saat bisa dijumpai kegiatan-kegiatan tersebut di berbagai tempat di Bali. Semua kegiatan agama, adat dan budaya masyarakat Bali itu dilaksanakan berdasarkan hari baik, atau biasa disebut dewasa ayu.

Adanya kegiatan agama, adat dan budaya yang berlangsung secara reguler di Bali, sudah tentu membutuhkan pakaian adat sebagai pendukungnya. Inilah yang membuat pakaian adat Bali mengalami perkembangan pesat atau tren mengikuti perkembangan mode di masyarakat. Salah satu item pakaian adat Bali yang tak jarang mengalami perubahan tren adalah udeng.

Dalam perkembangannya, terdapat beragam jenis, warna dan corak udeng yang disesuaikan dengan peruntukannya. Untuk giat persembahyangan ke Pura pada umumnya menggunakan udeng berbahan dasar dominasi putih, dengan corak/motif polos atau kombinasi bordir. Sedangkan untuk kegiatan adat/budaya lainnya, cenderung memakai udeng berbahan dasar selain putih. Misalnya, batik atau endek.

Seorang perajin udeng di daerah Renon, I Made Artana mengatakan, udeng berbahan kain batik atau biasa disebut udeng batik tak pernah hilang ditelan waktu. Udeng jenis ini selalu diminati, baik oleh kalangan anak muda maupun dewasa. Udeng batik biasanya digunakan untuk kegiatan adat di masyarakat, seperti ngayah, acara pernikahan, giat sekeha teruna dan seni.

“Kami memproduksi sendiri menggunakan bahan batik Pekalongan. Ada udeng lembaran, ada pula setengah jadi, tergantung selera konsumen. Pesanan biasanya datang dari sekeha gong, sekeha teruna, krama banjar, masyarakat yang akan menggelar acara adat, bahkan hotel dan butik,” ujar Artana saat ditemui di rumahnya.

Dibantu istri dan dua karyawan, dalam sehari pihaknya mampu membuat 100 pcs udeng batik setengah jadi dan sekitar 25 pcs udeng jadi. Satu pcs udeng batik dijual seharga Rp 70 ribu. Dalam sehari mampu terjual sekitar 30 pcs udeng batik. “Bentuk udeng, terutama bentuk blangko/bidaknya bisa dipesan sesuai selera masing-masing. Pemasaran selain di toko milik sendiri, juga hampir seluruh wilayah Bali, Nusa Penida hingga Jakarta, Lampung, Sulawesi dan Lombok. Kebanyakan mereka yang datang ke sini untuk memesan,” ungkapnya.

Artana menambahkan, saat ini masyarakat cenderung membeli pakaian adat Bali berupa paket lengkap, yakni udeng, baju, saput dan kamben, atau paket dua macam. Harganya pun akan lebih murah. (dar)