Musim Kemarau Untungkan Petani Kopi

Tabanan (Bisnis Bali) – Musim kemarau yang menjadi kendala bagi sektor pertanian padi di Kabupaten Tabanan, nampaknya berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami petani kopi. Setelah melewati musim panen pada September lalu, kemarau menjadi musim yang mendukung bagi proses pascapanen kopi.

“Kemarau ini menguntungkan bagi petani kopi yang telah melewati musim panen. Sebab, setelah musim panen, petani kopi sangat membutuhkan sinar yang cukup melakukan proses penjemuran kopi untuk mendapatkan kualitas baik,” tutur Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Dewa Ketut Budidana Susila, di Tabanan, Kamis (18/10).

Secara umum kondisi yang diharapkan memang berbanding terbalik dengan sektor pertanian padi, dimana di padi ketika terkendala untuk penanaman akibat minimnya ketersedian pengairan. Di kopi kondisi kemarau malah menguntungkan, bahkan jika kondisi kemarau yang masih dibarengi dengan cuaca lembab ini terjadi hingga Desember nanti, maka kemungkinan itu akan makin menguntungkan dalam menopang musim panen raya yang terjadi pada April 2019 nanti.

Musim kemarau pada akhir tahun ini akan mendukung bagi pertumbuhan bunga sebagai cikal bakal munculnya buah kopi pada panen raya mendatang. Prediksinya, jika tahun ini terjadi peningkatan produksi kopi hingga 90 persen, maka tahun depan produksi kopi di Kabupaten Tabanan kemungkinan bisa naik hingga 97 persen karena kondisi cuaca yang mendukung.

“Tahun ini untuk pemasaran kopi petani di Tabanan, rencananya nanti pada November 2018 akan dilakukan ekspor ke Korea,” ujarnya.

Di sisi lain akuinya, peningkatan produksi kopi di Kabupaten Tabanan ini sudah dibarengi dengan harga jual yang menguntungkan ditingkatkan petani. Itu tercermin harga kopi di tingkat petani dibandrol Rp 32.500 per kg untuk kulitas OC, atau naik dari harga sebelumnya yang dibanderol Rp 24.000 per kg kopi kualitas yang sama.

“Menjanjikannya harga kopi ini juga tidak terlepas dengan adanya Masyarakat Perlindungan Indikasi Gegografis (MPIG), dimana petani memiliki jaminan  untuk memegang kendali harga. Harga jual kopi akan ditentukan oleh MPIG dan bukan buyer,” tandasnya.

Sementara itu, paparnya sekarang ini kesadaran petani untuk panen kopi petik merah ini mulai tumbuh, bahkan petani kopi untuk dikawasan Pupuan menjadi sentra budi daya kopi justru sengaja melakukan petik merah. Sebab, mereka (petani) sadar petik merah akan membuat pendapatan mereka meningkat, selain itu petik merah akan menekan harga pada saat melakukan panen. (man)