Prospek Ekspor, Industri Perak Bali Dituntut Inovatif

9

Denpasar (Bisnis Bali) – Komoditi perhiasan perak Bali cukup diminati pasar dalam dan luar negeri (LN). Hal ini menuntut produsen perak Bali lebih inovatif untuk meningkatkan daya saing. Harapannya tak hanya mengangkat kehidupan pelaku UKM, menguatkan pasar lokal juga dalam rangka meningkatkan kecintaan masyarakat pada perak Bali yang merupakan hasil produksi daerah sendiri. Demikian antara lain diungkapkan, Agung Swastika, Selasa (9/10).

Berbicara kecintaan masyarakat Bali pada seni budaya daerahnya  telah dibuktikan dengan tingginya fanatisme mereka terhadap berbagai jenis desain dan motif tradisional Bali. Demikian juga banyak yang menjadikan perhiasan perak Bali koleksi karena dinilai unik dan berbeda dengan jenis perhiasan lainnya yakni emas yang dikenal memiliki prospek investasi menjanjikan. Perak memang relatif murah. Namun daya saing desain, motif, dan bahan bakunya dapat diandalkan baik di pasar dalam maupun luar negeri.

Meningkatkan eksistensi perak Bali beberapa hal memang perlu dilakukan. Selain penguatan permodalan, alat produksi, pemotif yang mumpuni, promosi, juga merek – merek khas Bali sehingga pencitraan positif komoditi kearifan lokal ini tetap terjaga. Pelaku UKM yang selama ini konsen memproduksi berbagai perhiasan perak perlu juga menggelorakan pasar dengan aktif ikut pameran di daerah,nasional, dan dunia.

Ini bertujuan mereka dapat melakukan evaluasi atas hasil produksi dan mampu meningkatkan kualitasnya di kemudian hari atau ke depan. Perbaikan secara kontinu ini adalah proses mutlak dalam meningkatkan daya saing industri perak Bali di era pasar bebas dengan berbagai tantangan dan persaingan di dalamnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Perak Bali, Nyoman Mudita menyampaikan perlu Rp 5 Miliar untuk bisa bermain di pasar dunia. Sementara daya saing desain dan motif Perak Bali sudah cukup diakui di dunia namun tetap harus ditingkatkan karena pasar dunia begitu dinamis. Ungkap pebisnis perak yang biasa pameran di luar negeri ini, peningkatan daya saing perhiasan perak Bali harus dimulai dari permodalan yang kuat juga material bermutu, manajemen bisnis profesional, dan lainnya. Sinergi yang baik dengan pihak terkait juga diharapkan makin mengangkat industri perak Bali untuk mampu meraih devisa yang optimal dari sejumlah negara tujuan ekspor.

Data Deperindag Bali, Bali menghasilkan devisa sebesar 7,28 juta dolar AS dari pengapalan hasil kerajinan berbahan baku perak selama triwulan I Tahun 2018. Ekspor naik 731.254 dolar AS atau 11,16 persen dibandingkan  triwulan yang sama tahun sebelumnya yakni  6,55 juta dolar AS.

Perolehan devisa tersebut atas pengiriman 1,39 juta pcs hasil kerajinan perak hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali, meningkat 29.155 psc atau 2,13 persen dari triwulan yang sama tahun sebelumnya tercatat 1,36 juta pas. Hasil industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang sebagian besar digeluti perajin Desa Celuk, Kabupaten Gianyar itu memberikan kontribusi sebesar 3,89 persen dari total nilai ekspor Bali sebesar 197,37 juta dolar AS selama triwulan I-2018. Perolehan total ekspor Bali tersebut meningkat 24,27 juta dolar AS atau 14,88 persen dibanding triwulan I-2017 yang tercatat 163,100 juta dolar AS.

Pengapalan aneka jenis perhiasan itu paling banyak diserap pasaran Singapura yakni mencapai 35,31 persen, menyusul Amerika Serikat 26,91 persen, Hong Kong 11,03 persen, Jerman 4,74 persen, Cina 1,49 persen, Australia 0,99 persen, Perancis 0,96 persen, Spanyol 0,54 persen dan Belanda 2,45 persen. 15,03 persen diserap berbagai negara lainnya di berbagai belahan dunia. (gun)