Kredit Mobil tak Terpengaruh Status Sosial

13

Denpasar (Bisnis Bali) – Memiliki kendaraan roda empat dengan sistem kredit kini tak terpengaruh status sosial masyarakat. Mereka yang kredit mobil tak lagi hanya mengarah segmen menengah ke bawah saja, menengah ke atas juga banyak memilih kredit.

“Tidak mutlak mereka yang kelas menengah ke atas akan membeli mobil secara tunai karena banyak pula yang kredit. Jadi kredit mobil tidak ada batasan kelas sosial,” kata salah satu marketing diler mobil di Sanur, Komang Yuliana.

Menurutnya kredit bukan sesuatu yang tabu saat ini. Semua orang bisa membeli kendaraan secara kredit terikat dengan uang muka, bunga dan harga. Termasuk orang-orang menengah atas yang membeli mobil hingga di atas Rp 500 jutaan. Bedanya, kalangan menegah ke atas memilih paket cepat sehingga beda jangka waktu yang dipilih dengan kalangan menegah ke bawah.

“Orang yang tergolong mampu umumnya membeli mobil high-end dengan mengambil waktu yang tidak lama. Rata-rata tenornya satu sampai dua tahun. Sedangkan yang lain bisa di atas lima tahun,” katanya.

Diakui, kredit mobil masih jadi pilihan semua kalangan karena memiliki beberapa keuntungan. Selain karena bisa memilih jangka waktu pembayaran dan harga, keuntungan lainnya terkait asuransi. Membeli tunai bisa dapat, tapi terpisah karena harus mengasuransikan kendaraan sendiri.

“Tapi ada anggapan membeli kredit biaya yang dikeluarkan lebih besar dari harga aslinya. Itu lumrah karena adanya sistem bunga,” terangnya.

Ia hanya mengingatkan, mereka yang membeli kredit harus pintar dan konsisten mengalokasikan uang untuk melunasi hutang dalam jangka waktu tertentu. Untuk mobil pasar kian menyukai SUV, meski low MPV masih kuat dari sisi penjualan.

Hal sama dikatakan penjual mobil bekas di Renon, Arta. Ia mengatakan, makin banyak masyarakat yang melirik mobil bekas karena harga belinya yang kian terjangkau, aman dan nyaman untuk anggota keluarga. Varian dan merek mobil bekas juga kian beragam dengan pilihan yang bevariasi mulai matik maupun manual. Untuk harga umumnya rata-rata kisaran Rp 90 juta hingga Rp 200 juta dengan tahun produksi 2000-an.

“Kredit juga berlaku untuk mobil bekas. Tapi harga lebih menjadi perhatian konsumen selain jenis kendaraannya,” katanya.

Mobil kini menjadi pilihan masyarakat sebagai sarana transportasi seiring sarana transportasi yang belum memuaskan. Ada prediksi kepemilikan mobil akan bisa mengambil alih keberadaan sepeda motor.

“Beberapa tahun terakhir memang daya beli masyarakat terhadap mobil bekas terus merangkak naik. Dari sebelumnya kisaran 10 persen kini sudah di atas 15 persen,” terangnya.

Mobil bekas jenis keluarga mulai Avanza, Xenia, Inova, hingga Splash, Estilo, Swift, Jazz dan lainnya yang memiliki segmen pasar luas. “Kami memiliki segmen pasar yang beda sehingga tidak terlalu terpengaruh dalam bisnis kendaraan,” ucapnya. (dik)