Salah satu contoh budidaya dengan sistem hidroponik.

Singaraja (Bisnis Bali) – Tanaman Hidroponik saat ini muncul sebagai alternatif pertanian lahan terbatas. Sistem ini memungkinkan sayuran ditanam di dataran rendah atau daerah sempit yang padat penduduknya.  Pengembangan hidroponik mempunyai prospek yang cerah, baik untuk mengisi kebutuhan dalam negeri maupun merebut peluang ekspor.

Untuk di Kabupaten Buleleng, kini banyak petani menggunakan sistem Hidroponik. Karena bercocok tanam dengan sistem hidroponik memiliki banyak keuntungan. Salah satunya kualitas tanaman yang baik dan secara otomatis mendongkrak harga tanaman di pasaran.

Tanaman yang dibudidayakan dengan hidroponik juga lebih mudah terhindar dari erosi dan kekeringan. Dengan perawatan intensif, satu tanaman dapat menghasilkan lebih banyak dari pada ditanam konvensional. Panen dengan cara hidroponik juga terbilang lebih cepat dibandingkan cara konvensional, karena petani tak perlu waktu lama menunggu masa tanam atau masa panen.

Hal itu diungkapkan Kepala Balai Pelatihan Masyrakat wilayah Denpasar Drs. Mulyadi Malik dalam acara gathering BPM di Puri Agung Singaraja. Dengan diterapkannya hidroponik diharapkan mampu mengatasi kekurangan lahan dan hasil produksi pangan. Sehingga keterbatasan lahan produktif saat ini tidak lagi menjadi kendala dalam mengusahakan pertanian indoor maupun outdoor.

Meskipun sistem hidroponik merupakan teknologi baru bagi petani di Bali Utara, namun pihaknya optimis mampu berkembang dengan baik dan makin menjadi tren ketika media tanah yang produktif semakin berkurang.

“Selain tidak memakan tempat yang luas, sistem ini juga mudah perawatannya serta lebih menguntungkan, kedepan hidroponik yang sangat dibutuhkan oleh industri pariwisata seperti hotel yang ada di Bali saja prospek ekonominya sudah lumayan,”terangnya. (ira)