Penurunan Harga Bahan Pangan Sumbang Deflasi di Singaraja

12

Denpasar (Bisnis Bali) – BPS Bali mencatat Singaraja mengalami deflasi 0,71 persen pada September 2018. Deflasi disumbang oleh turunnya harga sejumlah komoditi bahan pangan pada periode tersebut. Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, di Denpasar, Kamis (4/10) mengungkapkan, tingkat inflasi tahun kalender (Januari – September 2018) tercatat 0,97 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2018 terhadap September 2017 atau YoY) tercatat 3,54 persen.  Deflasi ditunjukkan oleh turunnya indeks pada dua kelompok pengeluaran.

“September lalu dua kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar yang tercatat mengalami deflasi masing-masing 2,24 persen dan 0,51 persen,” tuturnya.

Periode yang sama kelompok tercatat mengalami peningkatan indeks atau mengalami inflasi adalah kelompok sandang 0,50 persen, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,14 persen, kelompok kesehatan 0,08 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,03 persen. Paparnya, September 2018 komoditas yang menyumbang atau memberi andil deflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, buncis, telur ayam ras, ketimun, tomat sayur, cabai merah dan sawi hijau.

“Komoditas yang mengalami peningkatan harga atau memberikan sumbangan inflasi antara lain, daging ayam kampung, kentang, sepeda motor, dan minyak goreng,” ujarnya.

Jika dibandingkan kondisi tahunan pada bulan yang sama, kondisinya tak jauh beda. Itu tercermin pada September 2017 Singaraja mengalami deflasi  0,78  persen,  dengan laju  inflasi  tahun  kalender (Januari  –  September  2017)  mencapai  0,81  persen. Sementara  tingkat  inflasi  Year  on  Year  (September 2017  terhadap  September  2016)  mencapai  1,91  persen.

Sementara itu, dari 82 kota IHK, tercatat 66 kota mengalami deflasi dan 16 kota mengalami inflasi pada September 2018. Deflasi terdalam tercatat di Pare-pare (Selawesi Selatan) 1,59 persen dan terdangkal di Tegal (Jawa Tengah), Singkawang (Kalimantan Barat), Samarinda (Kalimantan Timur) dan Ternate (Maluku Utara) masing – masing mencapai 0,01 persen. Di sisi lain, inflasi tertinggi tercatat di Bengkulu 0,59 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Bungo (Jambi) 0,01 persen.

“Jika diurutkan dari deflasi tertinggi, maka Singaraja menempati urutan ke 14 dari 66 kota yang mengalami deflasi,” tandasnya. (man)