Singaraja (Bisnis Bali) – Desa Banyuning menjadi sentra kerajinan gerabah, mengingat masyarakat di sana sebagian berprofesi sebagai perajin, tak hanya gerabah juga perajin kayu, peralatan musik tradisional, ada juga seniman drama tradisional, seniman musik, tari tradisional dan masih banyak lagi. Tak heran Desa Banyuning memiliki julukan “Kampung Seni Banyuning”.

Khusus untuk gerabah, permintaan kerajinan satu ini cenderung tinggi sehingga perajin rutin memproduksi produk kebutuhan upacara keagamaan di antaranya cubek (ulekan tempat tulang mayat), kekeb (tempat api), coblong (tempat air suci), caratan (tempat air suci), payuk (wadah air), dan lain-lain. Sebagian kecil lainnya berupa benda-benda hias non fungsional yang jumlahnya masih sangat terbatas.

Bahkan para perajin gerabah di Desa Banyuning memiliki keinginan terus berkreasi menciptakan produk-produk baru sambil menciptakan pasar-pasar baru. Motivasi para pengrajin ini adalah modal budaya yang bisa menggerakkan modal ekonomi di desa Banyuning ini.

Karena itu untuk mewujudkan harapan perajin tersebut, P2M Undiksha bersinergi denfan pengrajin gerabah di desa Banyuning untuk memproduksi kerajinan gerabah dengan sentuhan inovasi – inovasi baru sehingga mampu menjadi souvenir ikon Bali Utara. Karena sejauh ini Buleleng belum memiliki ikon khusus yang bisa di jadikan souvenir untuk di bawa pulang oleh wisatawan.

Hal itulah yang mendasari Pengabdian pada Masyarakat, P2M Undiksha yang di pimpin oleh Luh Suartini, Hardiman, dan IGN Sura Ardana untuk lebih memberdayakan pengrajin gerabah di Banyuning.  Melalui pelatihan kerajinan souvenir yang diberikan kepada perajin gerabah  oleh beberapa mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa undiksha. Sejauh ini sudah ada 350 pcs souvenir dengan beragam bentuk dan warna telah berhasil di ciptakan. Hasilnya pun di pamerkan di Ruang Pameran Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha.

Salah satu pengrajin gerabah di desa Banyuning Luh Sariani mengatakan merasa terbantu dengan adanya pelatihan dari P2M Undiksha ini. Dengan kreasi baru gerabahnya tersebut ia mengaku telah menjual produknya sampai ke luar kota.

Sementara itu Ketua P2M Desa Binaan Souvenir Ikon Bali Utara Dra. Luh Suartini, M.Pd di sela-sela pameran mengatakan awalnya ia memang lebih tertarik dengan benda-benda yang terbuat dari gerabah. Produksi terus menerus tanpa ada inovasi membut pengrajin gerabah di banyuning tidak bisa meningkatkan harga dari hasil produksinya.

Ke depan rencananya akan mulai memproduksi souvenir secara masal dan akan di distribusikan ke seluruh daerah tujuan wisata di Bali Utara. “Ke depan kita akan produksi secara msal. Kita akan berikan cetakan-cetakan souvenir yang lebih banyak,” ungkapnya. (ira)