Ekspor Furniture ke Arab masih Berpeluang

13

Denpasar (Bisnis Bali) – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) mencatat, ekspor furniture mengalami kenaikan hingga 57.83 persen pada tahun 2017 dilihat dari pencapaian ekspor tahun sebelumnya. Tahun ini peluang ekspor furniture masih cukup tinggi, terutama tujuan negara Arab.

Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, AA Ngurah Alit Wiraputra, saat ditemui, Kamis (4/9) mengatakan, ekspor furniture dari Kadin cukup besar dilihat dari volume, dan peluang ke depannya juga masih tinggi. “Kalau dari segi nilai sudah menyentuh puluhan juta dolar untuk tahun 2018,” katanya.

Ekspor ke Arab sudah mulai menggeliat dari 2016 lalu dan makin bertambah sejak kunjungan Raja Arab ke Bali. “Potensinya masih sangat tinggi, karena di Negara tersebut tidak ada kayu dan ukiran, yang membuat funiture dari Bali pun sangat diminati,” ujarnya.

Untuk masuk pasar Arab, kebutuhan bahan baku furniture berbeda dengan kebutuhan di negara lain, seperti Australia atau Amerika. Hal itu karena Arab memiliki suhu yang panas dan dingin, berbeda dengan Australia yang hanya memiliki suhu dingin. Dengan itu, kualitas kayu yang digunakan dengan tujuan Arab pun berbeda dengan menggunakan kayu yang memiliki kadar air lebih rendah sesui dengan suhu di negara tersebut.

Di samping¬† kadar air, kualitas kayu yang bebas dari serangga juga menjadi perhatian. Alit Wiraputra mengatakan, masyarakat Arab sangat sensitif dengan hal itu, sehingga kualitas sangat harus diperhatikan¬† “Kualitas kayu yang menjadi perhatian dan itu bisa kami upayakan untuk mendukung permintaan negara tersebut,” ujarnya.

Dibandingkan tujuan ke Australia, ekspor produk ke Arab memiliki nilai yang lebih tinggi (lebih mahal). Selain funiture dengan tujuan negara Arab, beberapa produk unggulan masyarakat Balu yang memiliki potensi pada pasar ekspor yaitu tekstil (garmen) dan beberapa produk kerajinan lainnya termasuk handycraf.  (wid)