Permintaan Kipas Tangan Meningkat

9

Denpasar (Bisnis Bali) – Hari baik (duase ayu) pernikahan saat ini ternyata membawa keuntungan tersendiri bagi para pengusaha kipas endek. Kipas yang dipercantik dengan kain endek ini, membuat penampilan makin oke saat menghadapi acara resepsi.

Kipas tangan memang sudah menjadi  tren di kalangan ibu-ibu pejabat dan ibu-ibu sosialita. Dalam tiap kesempatan apalagi acara resepsi kipas yang bisa dibuat serasi dengan kamben yang dikenakan, tidak pernah lepas dari tangan ibu-ibu tersebut.

“Untuk acara resmi dan semi formal, membawa kipas tangan sudah menjadi hal yang biasa dan kerap kali menjadi lambang status sosial seseorang. Makanya permintaan kipas tangan khususnya yang bermotif endek terus mengalami peningkatan,” tutur Agung Suci, pemilik Primadona Mode, di Jalan Nusakambangan, Denpasar.

Dikatakan, permintaan kipas tangan cukup tinggi dan terus mengalami peningkatan apalagi menjelang duase ayu pernikahan belakangan ini. “Kipas tangan ini sangat banyak peminatnya, terutama dari ibu-ibu sosialita. Karena seperti biasa kalau ibu-ibu sudah kumpul, yang satu memakai kipas tangan yang lain pasti tertarik untuk membeli sehingga permintaan memang terus meningkat,” tuturnya.

Apalagi dalam kondisi cuaca panas saat ini, keberadaan kipas tangan tentunya sangat bermanfaat. Karenanya permintaan kipas tangan meningkat hingga 200% dibandingkan hari biasa. “Bahkan belakangan tidak hanya ibu – ibu, namun remaja juga mulai tertarik menggunakan kipas tangan. Tapi dari segi motif mereka lebih memilih warna yang cerah dan bunga – bunga yang terlihat lebih modern, bukan yang klasik seperti endek dan rangrang,” ungkapnya.

Sedangkan untuk kipas endek dan rangrang tidak hanya disukai oleh masyarakat lokal Bali, namun juga sangat diminati oleh pasar luar Bali. “Untuk saat ini permintaan kipas endek ini lebih banyak datang dari luar Bali, permintaan paling banyak datang dari Surabaya dan Kalimantan. Khusus untuk pasar Kalimantan ini yang paling disukai adalah kipas dari kain rangrang,” tukasnya.

Agung Suci mengaku tidak hanya membuat kipas dari endek dan rangrang saja, karena pihaknya juga membuat berbagai model dan motif kipas, termasuk yang terkesan modern tidak seperti kipas endek yang lebih menonjolkan kesan etniknya. Namun diakui permintaan tertinggi memang didominasi oleh kipas endek dan rangrang tersebut.

Untuk harga ia mengatakan berkisar Rp 125 ribu hingga Rp 275 ribu tergantung ukuran dari kipas. “Kami memiliki tiga ukuran kipas, yaitu S, M dan L. Ukuran yang paling banyak peminatnya adalah ukuran M, karena memang merupakan ukuran ideal tidak terlalu bersar ataupun terlalu kecil,” terangnya.

Dikatakan, banyak konsumen yang ingin, kipas dan busana yang dikenakan mathcing dan serasi, sehingga mereka memesan busana sekaligus kipas. Karena kaum wanita memang sangat menyukai berpenampilan serasi, yang akan semakin menonjolkan kesan femininnya. Ditambahkan saat ini pasar yang digarapnya memang masih pasar domestik dan belum mampu merambah pasar ekspor, meski demikian banyak wisatawan yang berkunjung ke butiknya juga tertarik dengan kipas endek sehingga kedepan ia berharap dapat menggarap pasar wisatawan ini. (pur)