Tabanan ( Bisnis Bali) – Permata dan perhiasan imitasi Bali merupakan komoditi andalan ekspor produsen Bali. Menjaga daya saingnya diperlukan inovasi tiada henti. Demikian produsen perhiasan Bali, Made Sudiartha, baru – baru ini.

Katanya, inovasi secara terus – menerus merupakan hal mutlak menjawab tantangan pasar global. Lebih-lebih menyikapi harga material emas yang kian mahal, peningkatan kualitas dan varian desain serta motif perhiasan akan menentukan daya tarik pasar. Tak hanya itu inovasi dan mencari alternatif pasar baru diharapkan meningkatkan daya tarik perhiasan Bali di mata para buyer. Salah satunya perhiasan emas imitasi dengan berbagai inovasi desain dan motif sehingga mampu menggugah minat beli pasar.

Dengan permata dengan upaya inovasi yang berkelanjutan akan mampu mengangkat fan mengkolaborasinya dalam wujud produk perhiasan yang berkelas. Didukung promosi yang baik diharapkan produk perhiasan Bali makin dikenal luas di pasar ekspor.

Hal senada disampaikan pebisnis perhisan emas, Kadek Ariana. Katanya pasar ekspor yang cerah patut digarap optimal dengan meningkatkan berbagai sumber daya para produsen. Tak hanya inovasi, tapi juga permodalan, promosi, dan lainnya. Hal ini akan memberi kesempaatan luas bagi para produsen meningkatkan pendapatan, maupun meraih devisa dari ekspor.

Data Badan Pusat Statistik  (BPS) Bali, nilai ekspor Bali Mei 2018 mencapai 49 juta dolar lebih. Kondisinya meningkat sebesar 1,1 persen dibandingkan dengan bulan April 2018. Peningkatan nilai ekspor ini dominan dipengaruhi oleh meningkatnya nilai ekspor tujuan Australia sebesar 2,6 juta dolar  atau naik 97,51persen. Penurunan pada April 2018 disebabkan oleh turunya ekspor ke Australia hingga -50,26 persen. Komoditas yang memacu meningkatnya ekspor tujuan Australia yakni komoditi perhiasan/permata yaitu  mutiara dan perhiasan imitasi. (gun)