Singaraja (Bisnis Bali) – Melangkah ke revolusi industri 4.0 di mana kehadiran teknologi digital khususnya quantum computer dan alguritme yang lebih kompeks membawa pengalaman kehidupan yang sungguh revolusioner. Masyarakat di Bali, teknologi ini diharapkan tak hanya memajukan bisnis, tapi juga untuk memajukan kebudayaan.  Hal ini diungkapkan  Wakil Ketua Yayasan WDS, I Made Marlowe, M.W.B,B.Bus, pada seminar sehari yang digelar Media Harian Bisnis Bali bekerjasama dengan STIKOM Bali, Rabu (26/9) pagi.

“Bali sebagai investasi budaya yang unik kita sebagai masyarakat harus memahami bagaimana memanfaatkan teknologi,”katanya.

Dengan TI akan makin komplit bagaimana bisa berkontribusi tak hanya kepada masyarakat di Bali juga di Dunia. Teknologi yang mulai diluncurkan 1991 bahkan di usia yang sangat muda mampu menciptakan ratusan entrepreneurship mulai dari multilevel dan usaha kecil menengah ke atas.

Penguasaan teknologi saat ini memang  cenderung lebih familiar di kalangan generasi muda. Bagaimana dengan generasi sebelumnya ? Justru dengan adanya teknologi, generasi sebelumnya justru kurang produktif .

Ia mencontohkan salah satu portal UMKM yang diciptakan Ananta Sanjaya yang merupakan CEO BUKALOKA yang dikelola warga Bali dari Bali dan untuk Bali yang saat ini menjadi salah satu kebanggaan karena dapat menarik minat dan kreatifitas para wirausaha mempromosikan produk atau jasa secara gratis.

“Tidak ada kata terlambat dan selalu ada mekanisme untuk memudahkan mereka mengisi masa pensiun,” jelasnya. (ira)