Denpasar (Bisnis Bali) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong generasi muda atau milenial untuk berinvestasi di pasar modal dan tak terjebak tawaran keuntungan tak masuk akal yang mengarah ke investasi bodong.

Anggota Komisioner Perlindungan Konsumen OJK Tirta Segara pada saat IOSCO C8-Goes to Campus “Investor Education for Youth” di Denpasar, Jumat (21/9) mengatakan, minat generasi muda sebenarnya sangat tinggi untuk berinvestasi di pasar modal, namun pemahaman mereka masih tergolong masih kurang.

“Investasi di pasar modal sifatnya jangka panjang jadi bukan untuk disimpan dalam waktu dekat dan dicairkan segera,” katanya.

Pengetahuan generasi muda yang kurang umumnya dari mengenal karakteristis saham itu seperti apa, membeli saham yang baik seperti apa mengingat harga saham beragam. Terkait kendala teknis tersebut, diakui, OJK telah berkerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI).

BEI bahkan sudah mendirikan galeri investasi di universitas yang jumlahnya mencapai hampir 400 di seluruh Indonesia. Galeri investasi tidak hanya untuk simulasi tetapi juga langsung bisa berinvestasi yang diarahkan bursa.

Selain itu, OJK terus melakukan edukasi bila ingin berivestasi di pasar modal sebaiknya jangka panjang. OJK pun akan melengkapi kebutuhan generasi muda atau mahasiswa agar jangan sampai keliru dan berinvestasi kepada produk-produk yang memberikan bagi hasil yang sangat tinggi atau tidak masuk akal mengarah ke investasi bodong.

“Masih ada yang terjebak di investasi bodong karena kendala literasi masih rendah. Berdasarkan survai 2016, jumlah investor masih relatif kecil atau kurang dari 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia,” jelasnya.

Bercermin kondisi tersebut, OJK mengajak IOSCO C8 melakukan edukasi bersama, sehingga kampus dan mahasiswa mendapatkan pengalaman dari berbagai negara terkait pengembangan pasar modal dan perlindungan konsumen di negara-negara anggota.

“Even ini sangat baik, kerja sama internasional tidak hanya sidang di Bali namun mereka bersedia berbagi pengalaman ke kampus-kampus,” ucapnya.

Ia menilai seminar tersebut penting untuk meningkatkan kesadaran nasional tentang pentingnya melek finansial di pasar modal, terutama bagi kaum muda. Meningkatkan literasi keuangan untuk pemuda telah menjadi gerakan global. Pimpinan G20 bahkan mengakui perlunya pemuda untuk mendapatkan akses ke layanan keuangan dan pendidikan keuangan serta pengembangan kerangka kompetensi internasional untuk pemuda dalam melek finansial.

“Memperbaiki perilaku keuangan kaum muda telah menjadi prioritas kebijakan di banyak negara,” ungkapnya.

Menurutnya berdasarkan penelitian telah menunjukkan bahwa keaksaraan keuangan dapat memiliki implikasi penting bagi perilaku keuangan. Orang dengan pengetahuan keuangan rendah cenderung memiliki masalah dengan utang, berpartisipasi lebih sedikit di pasar saham, cenderung memilih reksadana dengan biaya lebih rendah, kurang mampu mengelola kekayaan mereka secara efektif dan kurang mungkin untuk merencanakan pensiun mereka.

Karenanya literasi keuangan merupakan komponen penting dari pengambilan keputusan keuangan yang terinformasi dengan baik.  (dik)