Denpasar (Bisnis Bali) – Bali sejatinya memiliki potensi besar untuk pengembangan industri kreatif, yang akan melahirkan wirausaha-wirausaha kreatif (creativepreneur). Hanya saja, masyarakat lokal Bali terlalu enak berada di zona nyaman dengan berbagai tradisi yang ada. Akibatnya, banyak peluang yang ada akhirnya diambil oleh orang luar Bali.

Konsultan bisnis dan enterpreneur I Gede Bagia Arta mengungkapkan, masyarakat lokal bali harus mampu mengambil peluang dan potensi yang ada. Bali memiliki banyak potensi seperti di bidang pariwisata, kuliner, kesenian, event organizer, sinematografi dan IT yang bisa dikembangkan menjadi industri atau usaha kreatif.

“Selama ini orang Bali tak memanfaatkan potensi ini. Terlalu enak dengan suasana nyaman. Bali sebenarnya adalah hub internasional. Kalau tidak adaptif maka kita bisa menjadi warga kelas 3 di daerah sendiri,” ungkap Bagia Arta saat menjadi pembicara pada acara talkshow di Sanur.

Untuk menjadi enterpreneur (wirausaha) harus memiliki ide-ide atau terobosan yang baru sehingga produk yang kita hasilkan bisa diterima oleh konsumen. Di Indonesia jumlah wirausaha saat ini masih tergolong sedikit, hanya sekitar 2 persen dari total jumlah penduduk. Untuk itu semua pihak harus ikut mendorong tumbuhnya wirausaha-wirausaha, dengan catatan harus memiliki ide-ide kreatif agar mampu menghadapi persaingan global.

“Khusus masyarkat Bali, jangan mudah menyerah. Harus punya daya juang dan kreatifitas, serta terbiasa out of the box. Selain itu perlu memiliki wawasan tentang dunia luar. Semua ini untuk menggarap peluang usaha kreatif yang ada,” ajak lulusan Teknologi Industri ITB ini.

Sementara itu pelaku pariwisata Ida Bagus Gde Sidharta Putra mengatakan, untuk menjadi wirausaha kreatif harus memiliki karakter. Ia mencontohkan kesuksesan even tahunan Sanur Village Festival (SVF) yang sudah berlangsung 13 kali. Jika kita hanya memiliki minat (passion) dan visi tetapi tidak dilaksanakan (execution) maka akan menjadi halusinasi/khayalan belaka.

Begitupula, memiliki minat tanpa dibarengi visi dan pelaksanaan akan tidak punya arah. Sebaliknya, memiliki visi dan pelaksanaan tetapi tidak didukung oleh minat maka akan menjadi stagnan. Untuk itu, minat, visi dan pelaksanaan harus sejalan sehingga bisa menjadi suatu pekerjaan yang berhasil.

“Faktor kunci sukses adalah punya konsep dan ide, didukung oleh tim kerja yang solid, memiliki kemampuan manajemen, finansial, network dan promosi media. Ini sangat berlaku di bidang creativepreneur,” kata penggagas SVF ini. (dar)