Mangupura (Bisnis Bali) –  Long Dress hingga kini masih diminati wisatawan domestik (wisdom) di pasar oleh-oleh khas Bali. Hal itu diungkapkan Made Sutarjana, salah seorang pengelola pasar oleh-oleh di kawasan Kuta, Rabu (19/9).

Produk ini menjadi daya tarik konsumen untuk dipakai sendiri atau sebagai cenderamata bagi pasangan terkasihnya. Hal ini dibuktikan dengan selalu adanya transaksi tiap harinya.

Di samping karena terlihat menawan dan trendi pada long dress motif Bali ini, harganya pun cukup terjangkau bagi masyarakat. Harganya mulai Rp35.000 hingga Rp55.000 per pcs, tergantung jenis dan ukurannya.

Di samping itu, konsumen yang memilih produk ini juga berasal dari segala kelas, baik menengah atas maupun bawah. Agar tetap bertahan serta diminati masyarakat, tak jarang pihaknya selalu melihat tren pakaian atau fashion. Sebab, fashion merupakan produk yang selalu berubah desainnya dari waktu ke waktu. ‘’Desain pakaian yang menarik dan mengikuti tren terkini, tentu akan banyak diminati pembeli,’’ tandasnya.

Hal senada diungkapkan I Nyoman Warsa, salah seorang pengelola pasar oleh-oleh lainnya. ‘’Kami sengaja menyiapkan pakaian jenis long dress hingga kini,” ujarnya.

Kendati persaingan ketat sesama pebisnis sejenis tak terelakan lagi belakangan ini, pihaknya yakin mampu merebut kepercayaan konsumen dengan jaminan mutu dan harga yang kompetitif. Dengan harga jual produknya mulai Rp30.000-an per pcs, pihaknya optimis bisa merebut pasar. Apalagi produknya ini hasil produksinya sendiri, sehingga dari segi harga jual bisa ditekan dan bisa bersaing di pasaran.

‘’Tempat ini menjadi kesempatan yang baik untuk lebih mempromosikan produk kami, sehingga lebih memasyarakat. Dengan demikian, produk lokal tetap mampu menguasai pangsa pasar lokal yang memiliki karakteristik produk yang khas,” jelasnya.

Wirausaha di bidang fashion , juga perlu terus dipacu oleh pemerintah daerah, agar tumbuh dan berkembang seiring dengan ketatnya persaingan bisnis satu ini di pasar bebas.

‘’Produk fashion lokal dengan menyasar segmen wisdom dan wisman cukup berpeluang untuk dikembangkan di Bali,” imbuhnya.

Desain dan motif unggulan juga pihaknya tetap upayakan terus. Tujuannya, semata-mata untuk memberikan penyegaran pasar. (aya)