Produksi Buah Lokal belum Optimal dalam Pasar Ekspor

20

Mangupura (Bisnis Bali) – Sebagian masyarakat Bali yang berprofesi sebagai petani telah mampu memproduksi beraneka ragam buah lokal seperti, jeruk, durian, pisang, manggis, pepaya termasuk lemon. Namun potensi pasar ekspor belum dimaksimalkan, sehingga produksi masih perlu dikembangkan.

Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) dalam penandatanganan MoU dengan SMK N 1 Petang bertempat di SMK N 1 Petang, Minggu (16/9) lalu mempublikasikan data produksi buah lokal Indonesia mencapai 14.755 juta ton dalam setahun. Buah lokal tersebut merupakan sepuluh (10) besar buah Indonesia yang terdiri dari pisang (7.008 juta ton),mangga (2,464 juta ton), Jeruk (1.999 juta ton), sirsak (1.874 juta ton), salak (1.036 juta ton), durian (856 juta ton), peapaya (830 juta ton), rambutan (733 juta ton), alpukat (306 juta ton) dan manggis (111 juta ton).

Koordinator Program Sekolah Mandiri Produksi Tanaman Sayur dan Buah Edukasi (SMARTS-BE) SEAMEO BIOTROP, Dr. Supriyanto, mengatakan, dari jumlah produksi buah lokal, hanya 2 persen yang mampu menyentuh pasar eksport, sisanya (98 persen) habis dikonsumsi dalam negeri. Belum maksimalnya ekspor buah lokal dikarenakan produksi masyarakat kurang memenuhi persyaratan dan cepat rusak akibat praktik budidaya yang seadanya dan kekurangan tenaga menengah yang professional.

Di samping itu, buah lokal Indonesia bersifat musiman belum mampu memenuhi kebutuhan internasional secara kontinyunitas. “Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk eksport,namun masih menghadapi kendala dalam hal kualitas, kuantitas dan kontinyunitas,” ujarnya.

Di samping itu, pada 2016 Indonesia mengimpor buah sebesar Rp8,9 triiun. Di Bali, banyak jenis produksi buah lokal yang berpotensi, seperti jeruk Kitamani, termasuk lemon yang bisa dikembangkan. “Kalau jenis sayuran, asparagus memiliki potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan,” jelasnya.

Melihat hal tersebut, pemberdayaan sekolah menengah kejurusan (SMK) menjadi salah satu usaha yang mampu menjawab tantangan tersebut. Selain menciptakan lulusan yang berkompeten baik dalam pengelolaan lahan hingga berpeluang menjadi wirausaha muda, pemberdayaan siswa SMK pertanian juga diharapakan mampu menciptakan bibit-bibit unggul serta, input lingkungan dan pengendalian hama yang tepat yang pada akhirnya mendapatkan buah sepanjang musim.

“Di sampaing itu, pengelolaan buah menjadi produk turunan juga dapat dikembangkan,” imbuhnya. (wid)