Pelemahan Rupiah tak Pengaruhi Harga Bahan Bangunan

23

Denpasar (Bisnis Bali) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak terlalu berdampak terhadap perdagangan bahan bangunan di tingkat eceran. Harga bahan material bangunan terpantau masih cukup stabil.

Arya Dana seorang mandor mengatakan, stabilnya harga bahan bangunan lantaran mayoritas merupakan komponen lokal. Diproduksi dalam negeri bahkan beberapa jenis di antaranya seperti bata merah, batako maupun kusen kayu berasal dari hasil industri yang dikelola masyarakat.

“Kecuali mungkin seperti besi atau baja ringan yang asalnya dari impor. Kalau untuk bahan bangunan lokal sih harganya relatif stabil semua. Ada yang naik sedikit, tapi bukan karena dolar tinggi. Karena biaya transport,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan toko bangunan di jalan Antasura Denpasar, stabilnya harga juga akibat kondisi penjualan yang saat ini cenderung sepi. “Penyebabnya karena sedang memasuki musim panen padi. Banyak warga yang disibukkan urusannya ke sawah, selain itu juga lagi sibuk dengan urusan sekolah anak utamanya mereka yang baru mulai perguruan tinggi, jadi kebanyakan masyarakat masih perhatiannya untuk pendidikan,” ungkap Ayu latri, penjaga Toko tersebut.

Permintaan bahan bangunan diperkirakan kembali naik satu atau dua bulan ke depan. Saat itu banyak warga yang berniat merenovasi tempat tinggalnya. “Dan biasanya harga bahan bangunan mulai naik,” katanya.

Pemilik toko bangunan lainnya yang berada di jalan Gatot Subroto Denpasar, Asmadi mengamini. Kenaikan harga biasanya terjadi saat momen menjelang puasa dan hari raya. Tapi pemicunya bukan karena tingginya dolar, namun akibat stok di beberapa supllier besar menipis.

“Lebih kepada kelangkaan stok barang dari pabrik. Kan kalau mau puasa dan lebaran, pengiriman barang dibatasi,” ungkapnya.

Tapi ia mengakui, meskipun melemahnya nilai tukar rupiah tak berdampak terhadap harga jual bahan bangunan, namun daya beli masyarakat ikut terkoreksi. Belakangan diketahui, kondisi serupa juga dialami pada perniagaan lain seperti barang elektronik, fashion maupun kuliner.

“Kita yang pedagang eceran kerasa banget. Orang beli barangnya sekarang sedikit-sedikit. Kebanyakan untuk renovasi rumah saja, jarang yang mau bangun rumah,” tuntasnya. (ita)