Pembukaan festival Jatiluwih yang digelar 14 September lalu.

Ajang festival yang makin gencar digelar di sejumlah obyek wisata di Bali, diyakini tak hanya mampu mengangkat angka kunjungan wisatawan, namun juga menjadi cara efektif untuk mengangkat ekonomi masyarakat di tengah kondisi kelesuan ekonomi saat ini. Apa sebabnya?


PULAU Dewata, Bali merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia yang namanya sudah mendunia. Tak hanya turis domestik, turis mancanegara juga kerap menghabiskan waktu berliburnya di pulau yang dijuluki sebagai pulau seribu pura ini. Mulai dari selebritas, bahkan tokoh dunia juga ingin menikmati langsung keindahan alam yang menyajikan secara lengkap baik nuansa pantai dan pegunungan. Tidak terkecuali kesenian dan budaya.

Kondisi itu membuat jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Tercermin, Juli 2018 dari data BPS Bali tercatat mencapai  624.366 kunjungan. Angka ini naik 14,66 persen dibandingkan dengan catatan Juni 2018 (m to m). Begitu pula jika dibandingkan dengan Juli 2017 (y on y), juga mengalami peningkatan jumlah kunjungan wisman 5,46 persen.

Menurut Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Profesor I Gde Pitana di sela-sela ajang Festival Jatiluwih, tren peningkatan angka kunjungan wisatawan ke Bali ini harus terus dijaga. Diantaranya, diupayakan dengan menggelar festival berkaitan pariwisata.

“Sebab festival adalah suatu cara yang paling baik untuk mempromosikan pariwisata,” tuturnya.

Contohnya, Jember yang sebelumnya tidak terkenal sebagai daerah pariwisata, tiba-tiba bisa menjadi dikenal karena adanya Jember Fashion Carnival. Bercermin dari itu, ajang seperti Jatiluwih Festival bisa memperoleh manfaat seperti ajang serupa lainnya.

“Khusus di Jatiluwih adalah model pembangunan pariwisata berbasis pelestarian. Sebab itu, makin dilestarikan, maka akan semakin mensejahterakan,” ujar Pitana.

Sementara itu, Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa mengungkapkan, selama ajang festival Jatiluwih yang digelar dua hari (14-15 September) angka kunjungan mengalami lonjakan. Itu tercermin dari jumlah angka kunjungan wisman yang mencapai 1.000 an dalam per hari. Katanya, jumlah tersebut naik dari rata-rata angka kunjungan yang mencapai 500-600 per hari.

“Jumlah tersebut belum termasuk masyarakat lokal yang datang berkunjung, karena khusus masyarakat lokal pada saat ajang festival tidak dikenakan biaya tiket masuk,” tandasnya. (man)